Indonesia Merdeka Bukan Karena Bambu Runcing

Judul di atas agak provokatif ya? sengaja sih :mrgreen:

Dulu sekali saya pernah baca-baca di forum militer Kaskus, dan ada satu post yang sangat menarik hati. Di baris pertama dia menyebutkan, kemerdekaan Indonesia berkat bambu runcing itu hoax. Setelah membaca penjelasannya, masuk akal juga argumen orang ini. Karena kalau dipikir-pikir mana mungkin sih, bambu runcing mengalahkan senjata mesin. Dan rakyat Indonesia pun tidak seprimitif itu, mereka pahlawan kita dulu, juga berkembang seiring zamannya. Pertempuran besar di negara ini juga mengandalkan senjata-senjata api sebagai gugusan terdepan dan utama. Yang saat itu bisa didapat dari hasil rampasan perang, pencurian secara bergerilya, atau dari satuan-satuan penjajah yang mereka buat untuk melayani mereka tapi nyatanya malah berbalik arah.

Jauh sebelumnya, Dipati Unus dan armadanya sudah menggunakan meriam api yang dibeli oleh Kerajaan Demak dari orang-orang China atau Arab (saya lupa) untuk mengahadapi Portugis di Malaka, karena saat itu pada penyerangan sebelumnya mereka gagal total mengahadapi senjata Portugis. Selain itu secara tradsionil, di berbagai daerah di Indonesia juga  ada senjata seperti mandau, keris, rencong, kujang dan pedang yang lainnya yang memang sudah digunakan dalam dunia persilatan dan zaman kerajaan.

Secara historis, bambu runcing memang pernah digunakan dalam perjuangan kecil di daerah, ada yang menyebutkan senjata ini berasal dari Temanggung. Dalam penggunaannyapun ada yang menanambahkan racun di ujungnya. Tapi untuk petempuran besar bambu runcing hanya jadi cadangan, atau alternatif untuk pasukan yang tidak kebagian senjata api, alat untuk latih tempur, dan senjata darurat warga sipil serta pelengkapan saat perang gerilya. Bisa dibayangkan jika pejuang kita dulu hanya menggunakan ini di perang besar terbuka yang banyak terjadi di banyak tempat di negara ini, bakal banyak orang yang mati konyol sekonyol strategi perang berbaris jaman dulu di Eropa sana.

Tapi kenapa bambu runcing ini begitu terkenal? dan selalu didengung-dengungkan sejak kita mempelajari ilmu sejarah di bangku sekolah. Kalau menurut saya, hal ini berangkat dari propaganda. Secara ril memang ada, tapi propagandalah yang membuatnya besar. Perang dimanapun di dunia ini tidak akan lepas dari maraknya propaganda, seperti gunung yang tidak lepas dari cerita-cerita mistis. Contohnya Vasily Zaitsev, yang pernah main game COD atau nonton film “Enemy at  The Gates” pasti tau siapa orang ini. Dia adalah seorang sniper Uni Soviet di medan tarung Stalingrad. Kehebatannya diberitakan besar-besaran seantero Uni Soviet untuk membangkitkan nasionalisme dan semangat bertarung rakyat yang kendor dan keder atas sepak terjang Nazi. Jika dianalogikan, hal serupa juga terjadi di Indonesia. Salah seorang veteran Inggris pernah bercerita ketika harus menembak kompatriotnya sendiri pada pertempuran 10 November di Surabaya karena terkena tusukan bambu runcing yang diameternya tidak kurang dari 5cm, jika dicabut akan memperlebar luka dan rekannya akan mati, dan jika dibiarkan dia akan melihat tampang keasakitan penuh penderitaan rekannya tersebut yang akan mati juga secara perlahan, apalagi jika benar bambu-bambu tersebut dibubuhi racun. Cerita-cerita seperti inilah yang kemudian acap disebarluaskan, dengan tujuan untuk terus memupuk rasa persatuan dan semangat nasionalisme di tengah keterbatasan dan minimnya persenjataan. Sehingga menciptakan manusia-manusia tangguh yang membawa dan mengawal kemerdekaan Indonesia.

Jadi kesimpulannya, Indonesia merdeka bukan karena bambu runcing tapi karena “Bambu Runcing” (pake tanda petik :mrgreen:).

Simbolisasi ini terus melekat sampai sekarang. Saking melekatnya, perkembangan Alutsista TNI pun tidak ada apa-apanya jika kita bandingkan dengan negara selevel. Mungkin mereka, para elit di sana berpikir jika bambu runcing masih bisa diandalkan, yang jelas-jelas sudah tidak relevan lagi di era sekarang. Di saat negara lain sudah bisa bikin  panser sendiri, kita masih membeli senjata-senjata “kadaluarsa” dari negara lain sambil terus memoles senjata usang yang di negara produsennya sendiri sudah masuk museum.

Pernah sekali saya lihat liputan TV waktu Habibie berkunjung kembali ke pabrik IPTN. Tempat yang pernah melahirkan kebanggaan Indonesia tersebut kelihatan sudah seperti gedung lama tak terawat. Miris sekali rasanya. Daripada menghambur-hamburkan dana untuk pembangunan gedung letter U terbalik di Senayan sana lebih baik menggerakkan kembali aset produsen teknologi pertahanan negara seperti Pindad, IPTN dan Batan yang selama ini seperti berjalan di treadmill

Colek Me If I’m Wrong

Advertisements

36 thoughts on “Indonesia Merdeka Bukan Karena Bambu Runcing

  1. weiih ini baru namanya postingan keren..bener gan itu kalau dipikir secara logika..tapi bersyukur aja kita dah meredeka coba kalao dulu lahir pas kakek kita juga lahir pasti ngalamin deh kejadian kaya gini ehehehe..nice post..

  2. Negara yang ironis. ..
    dan inilah realita. .
    Indonesia merdeka karena adanya kemauan dan tekat untuk lepas dari penjajah..
    sekarang kemauan lepas dari penjajah sudah hilang. .ahirnya kita dijajah secara tidak sadar..
    semoga tekad itu kembali lagi..

  3. Kayaknya negara kita emang suka yang bekas atau cuma mampu beli barang bekas?
    Impor baju bekas, mobil bekas, bus bekas, kereta bekas, pesawat bekas, sampai celana dalam bekas aja ikutan diimpor. Hiiiiiiiiii…

  4. Keren artikelnya ka..
    Menurut sarah, itu sebagai lambang untuk membangkitkan jiwa nasionalisme seperti kaka terangkan di atas, dengan begitu serasa budaya negeri ini menyentuh ke negeri lain,, seperti jepang yang terkenal dengan samurai, cina dengan pedangnya.

  5. bener kok, memang bukan karena bambu runcing, dulu sejarah mengatakan, pasukan indonesia, rakyat banyak melakukan gerilya ke tempat gudang senjata jepang dan belanda untuk mengambil alih senjata. Ini membuktikan jika memang mereka memang tidak hanya bambu runcing semata.

  6. mantab neh tulisannya 🙂

    saya sependapat, ga mungkin kalau hanya bambu runcing saja…

    coba liat di film2 perjuangan tuh, kan banyak to yang ngelus-elus senjata api 😀 ,itu menggambarkan dgn jelas kalau dulu bukan hanya bambu runcing saja yg dipake utk melawan penjajah…hehe

  7. bambu runcing… hm…. sayang sekali, sakti belum pernah menyaksikan langsung bagaimana jalannya perang kemerdekaan dulu, jadi gak bisa komentar apa-apa. hehe. mungkin saja benar, pakai bambu runcing, mungkin juga para pejuang dulu pakai senjata hasil pampasan gerilya. wallohu a’lam.

  8. saya rasa memang mustahil kalo cuma menggunakan bambu runcing saja, tetapi apapun senjatanya semangat merekalah yang membuat Indonesia merdeka

  9. Menangnya karena niat dan keberanian kang. Teknologi cuman sarana 🙂

    +1 buat sarannya, amat disayangkan gedung2 produksi kita banyak yang dinonaktifkan, dan diganti dengan gedung2 konsumsi T.T

  10. “Daripada menghambur-hamburkan dana untuk pembangunan gedung letter U terbalik di Senayan sana lebih baik menggerakkan kembali aset produsen teknologi pertahanan negara seperti Pindad, IPTN dan Batan yang selama ini seperti berjalan di treadmill”
    stujuuu…saya jg pernah main, eh lewat PTDI, banyak bangunan yg ga terawat..:(

  11. hahahahaha,,, iya lah.. itukan cuma selogan ‘merdeka dengan bambu runcing’
    dicerita2 sejarah indonesia juga sering dilihatkan kok bahwa indonesia berjuang pake senjata api, bukan bambu runcing 😛

  12. eh… ini browser kurang ajar sekali. bgitu enter (ganti baris) malah tersend. saya ulang ya.
    masuk akal. tapi yg penting adalah perjuangan mereka ngga boleh disia2kan dan harus diteladani!!!

  13. propaganda yang memang perlu buat masa itu, dan terbukti ampuh loh, paling ngga, rasa bangga akan tanah air di hati para generasi muda masih tertanam lah berkat propaganda ini 😉

  14. selamat pagi.

    wah, blog nya jadi putih sekarang 😛

    “bambu runcing” dalam maksud secara filosofis ya…
    dan sekarang lagi heboh lagituh gedung baru DPR :hammer:

  15. dulu pernah kakek saya bercerita tentang “pemberontakan pdri” , saya tulis dalam tanda kutip karna saat itu padang bukanlah memberontak tapi menuntut otonomi daerah pada pusat yang pada saat itu sangat sentralisasi, selanjutnya bisa dibaca di http://pdri.multiply.com/journal/item/15/Sumatera_Barat_Pemberontak_yang_Takluk_
    lanjut kakek saya bercerita, saat pemberontakan itu, sumbar(mgkn mksdnya dulu segenap sumatra tengah) sudah memiliki senjata yang lebih dari cukup untuk saat itu, mempunyai ratusan meriam, senjata api, dan berbagai strategi perang dari elit2nya. dan tidak heran pada saat terjadi agresi militer belanda, Pemerintahan RI dipindahkan ke daerah ini.

    dan menanggapi mengenai bambu runcing ini, hal ini benar karna terlalu membesar2kan cerita. Hal ini sangat sensitif, jangankan untuk benda, bahkan tokoh2 pun tidak boleh dibesar2kan ceritanya, karna nanti kata kakek saya juga, yang muncul adalah sifat fanatik dan malas berkembang.

    • hai gan

      menurut sayah bambu runcing itu setenggh dari senjata apa meriam dan yg lain ya..

      dulu kake sya bercerita..dan menulis ya buku harian sayah….di kala medan perang besar besaran…para kia jaman dulu mengumpulkan berjuta juta juta madrkaat indonesia..sebagian megang senjata api..sebagian megang bambu runcing….tp jgn slah gan.bambu runcing itu mlebihi hebat y timbang senjata api…katena sudah d ajian ama para kiai….sekali d kibarkan sekali menyerang bambu runcing itu mngeluarkan api…dan musuh itupun lari karna ketakuan….

      syah ga mau comen banyak…..yg penting kita merdeka…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s