Mantan Petinju Nasional dengan 6 Gelar Akademis

Dulu pernah saya baca sebuah tulisan dari alumni SMA yang awalnya dimuat di grup milis Ikatan Alumni. SMA  1 Bukittinggi, begitulah nama sekolahan tempat saya bernaung selama 3 tahun sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. Sekolah yang sempat disebut-sebut dalam novel “Negeri 5 Menara”  :mrgreen:. Baru-baru ini tulisan tersebut dimuat kembali di grup Alumni FB oleh seorang teman. Senang plus iri saat membaca tulisan tersebut, tidak kalah dengan orang-orang yang jadi bintang tamu Kick Andy. Tulisan yang aslinya ditulis dalam bahasa Minang itu, saya terjemahkan ke bahasa Indonesia (tanpa dikurangi dan dilebih-lebihkan). Happy reading folks !

Pendahuluan
51 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 25 Desember 1958 (berarti post ini dibuat tahun 2009), seorang anak laki-laki muncul ke muka bumi dengan nama yang pemberian orangtua; KASMAN ARIFIN. Anak dari seorang anggota AURI di Padang ini berasal dari Pariaman, dengan suku Tanjung. Ketika menikah diberi gelar Sutan Muncak, sehingga nama lengkap beliau menjadi KASMAN ARIFIN ZA ST. MUNCAK. Apakah nama sepanjang itu sudah cukup? Ternyata masih panjang ceritanya, ini yang akan saya ceritakan selanjutnya.

Sebuah ketidakbiasaan atau keluarbiasaan selalu menarik untuk dikaji, sangat langka fenomena seperti ini ditemui di negeri kita. Coba bayangkan seorang petinju amatir nasional (1971-1979) sambil bersekolah di SMA 1 Bukittinggi dan terus kuliah di FH Universitas Andalas (Unand), sukses berprestasi di bidang tinju tingkat nasional dan internasional. Ketika pensiun dari tinju beliau menjadi pembina dunia tinju amatir Indonesia (PB Pertina), dengan jabatan tertinggi sebagai Ketua Bidang Teknik, Kepelatihan dan Pertandingan PB Pertina (2002-2006). Beliau adalah 1 dari 5 pelatih tinju Indonesia yang besertifikat AIBA (Organisasi Tinju Amatir Dunia) yang didapat di Bangkok tahun 1991, sambil tetap bekerja di PT CPI/Chevron Pekanbaru.

Lalu, ini yang super dahsyat, seng ada lawan kata orang Indonesia bagian timur, punya 6 gelar akademik; S1 (2x), S2 (2x) dan S3 (2x) dari PTN top dibumi pertiwi dan of course ada juga yang dari luar negeri. Semuanya didapat melalui program full beasiswa dan semuanya sukses, kelihatannya beliau ini benar-benar disayang Allah SWT.

Hebatnya, saya kenal dengan Kasman baru bulan Oktober 2009, could you believe it ? Kami sama-sama anggota Milis Lapau Mak Kari, ketika saya kunjungan dinas ke Pekanbaru, saya hubungi beliau, eeee.. kami langsung akrab ketika bertemu di Hotel Aston, Pekanbaru. Berpelukan seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, padahal baru kenal dan baru pertama kali bertemu, a magic power of Lapau Mak Kari. Malam itu saya dan Maridsyah (Angkt. 75) ditraktir Kasman makan di Kadai India McCurry, kami berdiskusi tentang program Indra Catri for Bupati Agam, lalu kami ke Hotel Ibis Pekanbaru, ngobrol ngalor ngidul dijamu oleh Mak Munadir (74) yang begitu baik, hingga tengah malam. Terima kasih banyak Mak Munadir for your hospitality.

Sejak saat itu, adrenalin di badan saya mengalir deras. Kisah hidup kawan yang satu ini sangat layak untuk diketengahkan, tapi karena kerjaan di sawah sedang banyak baru kali ini saya punya waktu. Mudah-mudahan bermamfaat, seperti kata Kasman “Uda Jaka, sebagian dari perjalanan hidup saya ini mungkin bisa menjadi bahan inspirasi untuk adik-adik dan keponakan kita” InsyaAllah.

Sebentar.. ngopi dulu.. biar nulisnya lebih mantap

The Real Story
Saya mulai dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim..

Beliau tamat dari SMA 1 Bukittinggi tahun 1976, terus kuliah di FH Unand, sambil terus aktif di dunai tinju. Tamat Sarjana Muda (BcHk) secara on-schedule tahun 1979, lalu vakum kuliah sementara karena meneruskan karir bertinjunya. Coba lihat prestasi tinju beliau yang kemilau di kelas Menengah Ringan:

  • Medali Emas, Saruang Tinju Emas di Padang (1978)
  • Medali Emas, Kejuaraan Eropa di Paris tahun 1979, tapi menderita cedera parah di bahu dan terpaksa pensiun dari dunia tinju.
  • Termasuk sejumlah medali dan piagam dari berbagai kejuaraan Daerah maupun Nasional.

Beliau kemudian mengabdi di Pengurus PB Pertina,dan memperoleh sponsor untuk kuliah S2 ke Rusia tahun 1981-1983 bidang Sport Medicine dari Institute Sport of Moscow CCCP. Keren nih, juga bisa berbahasa bahasa Rusia. Ini adalah gelar S2 yang pertama.

Kembali ke Indonesia, lansung menikah dengan Ermina R. (IASMA-77), orang Koto Marapak, Kabupaten Agam. “Beruntung ada Ermina yang kasihan sama saya :D” kata Kasman. Kasman yang sewaktu muda suka camping, pramuka dan tinju, suka malu kalau bertemu wanita, anti Wakuncar. “Manggigia lutuik den” (gemetaran lutut saya), Kasman manambahkan.

Beliau mulai bekerja di Caltex tanggal 24 Januari 1984 sambil melanjutkan kuliah di FH Unand dan mengurus PB Pertina. Ya, pusing juga memikirkan kesibukan beliau. Lulus dari FH Unand Tahun 1989, memang aneh, dapat gelar S2 duluan baru S1.

Sambil bekerja dan berorganisasi beliau kemudian kuliah di FE Akuntansi Ekstension UNRI (Universitas Riau), hasil beasiswa dari Caltex. Selesai tahun 1997, ini adalah gelar S1 yang kedua. Belum puas dengan ilmu dan gelar yang didapat, beliau kembali kuliah S2 di MM Universitas Padjadjaran, Bandung dan tamat tahun 2001, ini gelar S2 yang kedua.

Berhenti belajar ? Masih belum, beliau terus kuliah S3 Business & Law di Multi Media University, Faculty of Business & Law, Cyber Jaya Malaysia, selesai tahun 2005. Ini gelar S3 yang pertama, wow… bikin keder.

Sudah capek sekolah ? Rupanya masih belum, beliau lalu kuliah S3 Manajemen Akuntansi (Major : System Fiscal Sharing Contract Petroleum Accounting), Universitas Brawijaya, Malang, dan tamat tahun 2006. Inilah gelar S3 beliau yang kedua, bener-bener dah bapak yang satu ini..

Apakah sudah selesai proses belajar mengajarnya ? Ternyata masih belum. Sebagai pejabat Liaison Finance (Accounting) SMO di PT Chevron Pacific Indonesia (d/h CPI), beliau mengisi waktu luang di akhir pekan senagi dosen tamu di Universiti Teknikal Malaysia, Melaka (UTeM), Faculty of Technology and Technopreneurship, Bidang Keilmuan Technopreneurship, sejak tahun 2008 sampai sekarang. So great, ampuuun…

Dengan umur yang sudah 51 ini, beliau tinggal menikmatinya bersama sang istri Ermina di Jl. Kuras II No. 1/14, Tampan, Pekanbaru. 4 orang anak laki-laki hasil joint operation mereka dan syukurnya masih di negeri ini juga. Bisa dikatakan semuanya sudah menjadi orang-orang sukses. Mari kita lihat:

  1. Kapten (Penerbang) Dony W. Arifin (26), Pilot Pesawat Tempur Sukhoi di Makassar
  2. Ir. Satria P. Arifin (25), IT Engineer, Digital Network, Istana Kepresidenan, Jakarta.
  3. Igbal M. Arifin SE Ak (24), PT. Indomining, Sanga-sanga, Kalimantan Timur
  4. Hafidz P. Arifin (20), Mhs. FH Unpad, Bandung

Apa yang kurang coba ? Saat ini Kasman dan nyonya lebih banyak termenung daripada tertawa, karena sudah sangat ingin punya menantu, ingin segera menggendong cucu. Sedangkan putra-putra mereka masih sibuk membangun karir mereka masing-masing.

“Entahlah, itulah jalan kahidupan, kita mesti bersabar.. jaman sekarang memang beda dengan jaman dulu” kata Kasman

DR (BL), DR (Ak) Kasman Arifin ZA St. Muncak, SE, SH, MSM, MM, itulah nama lengkap beliau yang seharusnya. Fantastis, ciamikt.. tapi beliau enggan menggunakannya. “Saya hanya orang biasa” begitu kata beliau kalem.

Pesan

Pesan beliau kepada anak-anak muda melalui motto dan kiat hidup:

Motto menuntut ilmu: Orang lain bisa, kitapun bisa

Kiat hidup: Mambantu tanpa pamrih, berikan baktimu pada saat orang membutuhkan, yakinkan diri bahwa Allah SWT akan mengganjarmu dengan pahala yang berlipat ganda.

Kasman Arifin, sudah banyak yang beliau lakukan untuk PB Pertina selama ini, walaupun begitu partisipasi positifnya selalu ditunggu untuk kamajuan IASMA1 BKT yang kini sedang giat berkiprah, mudah-mudahan badampak sistemik.

Akhirul kalam, mohon maaf kalau ada yang berkenan dalam tulisan ini. Bukan karena narsis, bukan juga karena ingin ikutan tenar. Tapi prestasi yang fenomenal ini sangat bagus untuk diangkat sebagai dinamika dan inspirasi milis.

Selamat ulang tahun ke 51 Kasman, mudah-mudahan Kasman dan keluarga selalu mendapat rakhmat dan karunia dari Allah SWT, dan sabagian kisah parjalanan hidup Kasman bisa menginspirasi dan menstimulasi yang muda-muda, khususnya supaya maju di bidang pendidikan.

Wassalam

Jaka St Mangkuto-74

Kawan yang ikut berbangga

Translated by Hendro Nurkholis 😀

Secara personal, saya tidak kenal dengan Bapak Kasman Arifin ini maupun penulis artikel diatas, Bapak Jaka St Mangkuto, karena jarak umur dan angkatan yang begitu jauh, walaupun nyatanya kita satu almamater. Dan secara tidak langsung saya minta izin kepada beliau berdua memuat hal inspiratif di atas di blog mahajelek ini.

*foto diambil seenaknya saja dari akun facebook Bapak Kasman Arifin :mrgreen:


Advertisements

9 thoughts on “Mantan Petinju Nasional dengan 6 Gelar Akademis

  1. Semangat beliau untuk terus maju dengan meningkatkan pendidikan adalah hal yang patut kita tiru. Memang tidak mudah. Ada saja hambatannya. Tapi kita harus yakin akan ada selalu jalan keluar untuk memperkaya diri melalui pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s