Ala Kadarnya

Apa yang terbersit di pikiran anda ketika mendengar kata “ala kadarnya”? 

Apa yang akan anda lakukan? 

Mungkin jika yang mengucapkan hal itu ialah masyarakat biasa yang minta sumbangan atau pengemis yang minta-minta di jalanan yang bakal biasa aja, kalau polisi gimana? Jadi ini cerita saya;

Jadi seminggu kemarin saya datang ke kantor polisi untuk membuat surat kehilangan, untuk mengurus pembuatan kartu ATM yang baru. Kartu ATM saya hilang beberapa minguu sebelumnya. Seperti orang pada umumnya saya sangat malas berhubungan dengan polisi. Tau sendirilah citra polisi itu seperti apa. Terakhir saya berhubungan dengan polisi itu sudah lama sekali, kalau gak salah waktu pembuatan SIM, dan iya (syukurnya) saya belum penah kena tilang 😀

Sebagai bagian dari orang-orang yang (masih) skeptis dengan aparat, sebagai orang yang hatinya masih terpacu ketika mendengar lagu Rage Against The Machine, sebagai orang yang telingannya masih berdiri ketika mendengarkan rap Ucok Homicide. Sebelum ke sana saya sudah tekadkan untuk bertindak adil ke diri saya sendiri. Melakukan yang sesuai aturan, tanpa kompromi dengan aparat.

Mulailah cari-cari info dulu, apakah buat surat kehilangan itu ada pungutan resminya, sampai googling segala. Oke, ternyata  jawabannya TIDAK ADA tapi (seperti yang dibayangkan) mereka bakal mungut 10-15 ribuan lah kata orang-orang yang pernah berpengalaman.

Oke nggak bener nih pikir saya, kalau gak dimulai dari hal-hal kecil kayak gini ya kapan majunya Indonesia (sekelebat teringat quote-quote penyemangat yang sering bertebaran di social media). Dengan langkah percaya diri, sepercaya diri Peter Parker ketika mengenakan baju ketat lateksnya, saya menuju kantor polisi. Tiba di sana cuma dengan sekali tanya saja langsung dilayani & dibuatkan oleh seorang aparat. Semuanya mulus, bapak aparatnya pun enak nanya-nanyanya. Terakhir setelah selesai, momen yang saya nantikan datang juga, “bapaknya minta duit gak ya?”,”kira-kira dia bakal minta berapa ya”,”10 atau 20 ribu ya? ,”bapaknya kayaknya baik” saya bergumam dalam hati.

Surat diserahkan ke saya, seraya bapak tersebut berkata “Ala kadarnya Mas”. TENG!!! 😯 waduh saya gak siap buat perkataan ini. Tak memprediksikan sebelumnya. Berbagai pikiran melintas di benak saya dalam waktu yang sangat singkat pada momen itu. Daaannn.. tangan kiri saya menyerah juga, merogoh kantong kiri, ada 8 ribu lalu langsung dikasih tanpa ngomong apa-apa. Si bapak sekelebat langsung menyimpan duit lecek tersebut ke laci mejanya.

Shiiit!!! melangkah keluar kantor polisi tak hentinya mengumpat dalam hati. Bukan kesal sama pak polisinya, tapi kesal ke diri sendiri. Mana sikap percaya diri tadi. Memang cuma 8 ribu sih & bapaknya pun cuma ngomong “ala kadarnya”, secara literalpun artinya kalau gak dikasih pun gak apa-apa, toh seikhlasnya kan. Tapi itu tadi, at the end of the day, mental saya masih mental orde baru, mental budaya korup, mental “sudahlah daripada ribet”, mental “ahh.. cuma 8 ribu ini”, mental “daripada bikin masalah”, mental sayur. Cuma omongan doang di depan.

Sedih 😦

Advertisements

8 thoughts on “Ala Kadarnya

  1. Serba salah, ya. Kalau saya biasanya kasih karena apresiasi atas bantuannya saja, meskipun sebenarnya memang tak boleh, ya. Lebih baik sih kalau kasih makanan atau minuman saja kali ya.

  2. hmm,, memang seperti itu adanya,
    karena ga enak nolak makanya tangan kirinya mengeluarkan 8 rb-an,
    tapi kalau bilang ‘makasih ya Pak’ bawa suratnya jg ga enak, soale udah ada pendahuluan ala kadarnya.
    * kok panjang amat komen nya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s