Beberapa Hal Yang Bikin Saya Mengerinyitkan Dahi di The Raid 2: Berandal (Spoilers)

Agak telat ya kalau The Raid 2 baru diomongin sekarang, tapi ya mau gimana lagi, saya baru nonton filmnya 😀 . Nunggu hype-nya menurun. Waktu awal-awal keluar, bioskop pada penuh sesak, saya males ngantri lama-lama 😛 .

The Raid 2: Berandal, film lokal paling populer saat ini. Dapat pujian bagus dari publik dalam maupu luar negeri. Ya memang pantas sih, film yang bagus. Tapi tetap saja ada momen-momen yang bikin saya mengerinyitkan dahi waktu menontonnya, antara lain:

  • Cerita yang masih agak generik. Jauh lebih baik dari The Raid yang pertama. Mirip cerita film action Hongkong jaman dulu. Gak buruk sih, tapi yang gak ‘wah’ juga. Soul & Bonding nya juga kurang dapat. Terlalu banyaknya tokoh juga mempengaruhi. Orang-orang bilang wajar, karena ini film action, lebih mementingkan action dibanding dramanya. Tapi tentu lebih istimewa kalau jalan ceritanya juga lebih menarik.
  • Penggunaan kata ganti orang yang tidak konsisten (saya, aku, lu, kamu, gue, kau). Banyak karakter menyebutkan dirinya dengan saya kemudian jadi gue, bahkan dalam satu scene dialog. Polisi berbicara dengan atasannya dengan lu-gue, rasanya kurang pas.
  • Ada salju di Jakarta. Agak aneh ada salju di negara tropis. Hal ini sempat jadi topik hangat di twitter. Menurut produsernya Aryo Sagantoro, Jakarta yang digambarkan dalam film ini adalah kota fiktif sesuai imajinasi sang sutradara Gareth Evans jadi bukan benar-benar Jakarta yang aslinya. Salju juga dimaksudkan untuk mendramatisir keadaan. Aryo Sagantoro sebenarnya sempat berdebat dengan Gareth Evans tentang salju ini waktu proses produksi. Saya pribadi kurang suka dengan scene salju tersebut, apalagi saljunya cuma ada di satu scene tersebut. Jadi kurang konsisten & random settingnya, dari musim panas ke musim dingin lalu tiba-tiba musim panas lagi. Pakaian para tokohnya saat salju juga kurang match, gak pakai jaket tebal.
  • Alat pelacak yang digunakan dalam film, bentuknya kurang meyakinkan. Kayak ujung earphone yang dipotong, terus kabelnya dililitkan sedikit.
  • Peran tiga tokoh Jepang terkesan hanya sebagai pelengkap saja. Sayang padahal tiga orang tersebut adalah aktor yang cukup populer; Kazuki Kitamura, Kenichi Endo, dan Ryuhei Matsuda.
    Kazuki Kitamura, Kenichi Endo, dan Ryuhei Matsuda
    Kazuki Kitamura, Kenichi Endo, dan Ryuhei MatsudaKazuki Kitamura, Kenichi Endo, dan Ryuhei Matsuda.
  • Bahas Inggrisnya Ryuhei Matsuda gak jelas, lidah orang Jepang sih ya 😛 .
  • Product Replacement, yang agak mengganggu itu pas Iko Uwais ngintai orang pakai iPad menggunakan kamera kecil. Rasanya pas adegan itu akan lebih efektif dengan cara mengintip saja, manual. Nggak terasa mamfaat teknologinya di sini.

Cuma itu aja sih kayaknya, selebihnya saya suka. Terutama adegan fight di dapur antara Iko Uwais dan Cecep Arif Rahman, lama tapi asik.

iko uwais & cecep arif rahmanSalah satu yang bagus dari film ini adalah keseriusan penggarapannya & semangat keterlibatan orang-orang di dalamnya. Jadi gak heran kalau proses shootingnya cukup lama. Seperti kata Roy Marten yang juga ikut dalam film ini “Kalo film-film Indonesia, separoh aja semangatnya seperti ini, ketelitiannya, maka film Indonesia akan sangat bagus”.

Buat yang sudah nonton, cek ini, deleted scene yang gak masuk editan terakhir yang rilis di bioskop:

Juga behind the scene nya:

 

Advertisements

8 thoughts on “Beberapa Hal Yang Bikin Saya Mengerinyitkan Dahi di The Raid 2: Berandal (Spoilers)

  1. scene yang ini ya gan. yang katanya di delete di malaysia soalnya ada reog ponorogonya. tapi keren banget aksinya…. sayang belum bisa nonton live di bioskop 😦

    • Ah jangan suudzon dulu, saya gak percaya kalo hanya untuk alasan sepicik itu. Lagian itu kan urusan orang di sana, gak perlu ikut campur & ikut pusing juga. Cara2 distribusi dan regulasi perfilman di setiap negara kan juga berbeda.
      Ngapain juga Malaysia dipikirin. Perfilman Indonesia lebih bagus drpada di sana. Kalau mau nyari kompetisi & tolak ukur, lihat Thailand.

  2. Saya gak sempat nonton yg seri 2 ini. Yang pertama saja nontonnya serem begitu. Gak tahan dengan adegan-adegan berantemnya yang benar-benar keras…
    Jadi, dipuaskan saja dgn membaca reviewnya disini…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s