25 Mei 2014: RIP Nenek

DSC09098c

Tanggal 25 Mei kemarin, Nurhayati, seorang wanita Minang kelahiran tahun 1941 dipanggil Allah SWT. Beliau adalah nenek saya. Nenek terhebat, terdengar klise memang, tapi jika dibandingkan dengan nenek-nenek orang lain, saya sangat bersyukur punya nenek seperti beliau, sungguh!

Nenek seorang pekerja keras. Risih kalau hanya diam-diam saja di rumah. Hanya kesehatan yang membendung semangat beliau. Pekerjaan beliau adalah pedagang beras, sampai beberapa tahun yang lalu pun masih aktif berdagang. Kemudian berhenti setelah fisik beliau semakin menurun, walau sebenarnya di rumah pun juga sama saja masih sibuk sana sini. Masak di dapur, nyabutin rumput di halaman, ngurusin adik saya yang paling kecil, bersih-bersih rumah & sesekali ngecek sawah.

Saya punya banyak memori dengan beliau semasa kecil hingga beranjak remaja. Tiap kali pulang dari pasar selalu dibawain makanan, sate, mie, keripik, ketupat pical dll. Salah satu momen yang selalu dinanti oleh saya & adik-adik. Juga tempat untuk berlindung ketika Ama (Ibu) marah-marah ๐Ÿ˜€ dan tentu saja tempat pertama yang dituju kalau kekurangan uang jajan dari Ama.

Sebagai anak 90an (yang tinggal di kampung) saya akrab dengan kelereng, gambar-gambar, karet dll. Tidak seperti anak-anak lainnya yang mesti merengek-rengek dulu minta dibeliin ke orang tua. Nenek jadi harapan saya yang cukup royal, pulang dari pasar selalu dibawaain.

Lanjut ke SMP & SMA tetap gak berubah. Apalagi lokasi sekolah yang dekat dengan pasar tempat beliau berdagang. Lapak beliau jadi tempat transit saya waktu ada olahraga atau pelajaran tambahan sore. Tempat buat makan & ganti pakaian, atau sekedar buat istirahat atau minta uang jajan.

Oh… those good old days ๐Ÿ˜ฆ

Perubahan fisik beliau baru terlihat 1-2 tahun terakhir ini. Sudah mulai pikun, kerja sensorik melemah, kalau bicara kadang mulai gak nyambung. Waktu saya pulang kampung tahun lalu sempat terbersit di pikiran “apakah masih bisa ketemu beliau tahun-tahun ke depan?”, entah kenapa. Kekhawatiran di ubun-ubun.

Seminggu sebelum beliau meninggal, Ama nelpon ngasih tau nenek masuk rumah sakit. Hal pertama di kepala saya waktu itu adalah “this is the time?”. Bukan berharap yang terburuk, tetapi paranoia melingkupi pikiran. Bapak juga menyarankan buat pulang juga minggu itu, namun saya belum bisa memastikan. Dan memang Allah sudah punya rencana, tanggal 25 Mei pagi beliau menghembuskan nafas terakhir. The worst thing, semua penerbangan hari itu full booked, saya baru bisa pulang esok paginya ๐Ÿ˜ฆ

Mungkin karena telah dewasa secara emosional, saya gak nangis sekeras kakek & tante meninggal dulu. Hanya air mata berlebih di pelupuk mata. Hal bisa saya perbuat hari itu cuma curhat gak jelas ke seorang cewek random Thailand di dunia maya. Pathetic. Barulah waktu pulang ke rumah, emosi ini bisa dicurahkan properly.

Satu hal yang cukup disesali, saya gak ada di tempat saat beliau menghembuskan nafas terakhir. Ingin sekali melihat wajah dan memeluk beliau untuk yang terakhi kali ๐Ÿ˜ฆ

Ya Allah terimalah pahala beliau & tempatkan beliau di tempat yang sebaik-baiknya.

***

25 Mei sebenarnya adalah hari ulang tahun saya, tapi sekarang mungkin artinya akan bergeser sebagai pengingat bahwa saya pernah punya salah satu wanita terhebat dalam hidup saya & supaya jangan lupa tetap mendoaakannya. Toh, saya juga gak pernah merayakan hari ulang tahun.

Advertisements

8 thoughts on “25 Mei 2014: RIP Nenek

  1. Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Semoga kamu dan keluarga diberi kesabara dan ketabahan. Untuk alm nenek, mudah2an dilapangkan kuburnya, diterima amal ibadahnya. Aamiin.

  2. Saya juga punya kenangan kecil –saat masih kecil– yang indah bersama nenek (ibunya-ibu)
    Seperti halnya neneknya mas Hendro, nenek saya juga orangnya ndak bisa diem dalam hal melakukan pekerjaan. Suka mendongengi saya ketika berkunjung (setahun sekali saat libur lebaran), mengajari saya beberapa kata dalam bahasa belanda, mengajak saya menyapu halaman yang luasnya se-kecamatan (saking lebarnya bagi saya saat itu; belum lagi tumpukan pasir sisa letusan gunung kelud yang musti dihadapi). Lah, malah jadi curcol.

    Semoga nenek diberi tempat terbaik di sisi-Nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s