Sepi Tertinggalkan Waktu

Malam ini, satu lagi teman yang saya antar ke terminal/stasiun meninggalkan kota ini. Tiap melepas mereka pergi ada rasanya semacam bongkahan masa muda yang hilang, lalu tempat tersebut diisi bongkahan baru yang kosong, kelam dan membosankan. Padahal ketika mereka ada, rasanya biasa saja, hanya seperti orang yang lalu lalang penggembira, tidak ada yang special. Apalagi sebagai seorang teman saya tidak bisa dikatakan seorang teman yang baik. Cukup individualis, cukup pelit, kurang aksi tapi banyak komentar. Dan rasanya pun saya hanya pilihan terakhir ketika mereka membutuhkan. Tidak terlalu bisa diandalkan.

Dan malam ini mungkin juga kali terakhir saya mengantarkan seorang teman ke terminal/stasiun, karena rasanya tidak ada lagi teman yang cukup dekat yang akan minta tolong hal serupa. Artinya saya orang terakhir, sangat meyedihkan bukan? Kesepian melingkupi pelan-pelan. Kesepian yang berbeda tipenya ketika wanita pujaan diambil orang lain, tidak semenyakitkan itu, tapi cukup membuat hati ini sesak berkerut.

Teman-teman perlahan melangkah mengais kehidupan masa depan, saya stagnan di sini tertinggal waktu, tertinggal peradaban. Tekad & resolusi hanya main-main saja di kepala, diikat erat oleh dusta pada orang-orang tercinta. Urat malu perlahan-lahan berkurang, mungkin merger satu sama lain, urat gengsi yang bertambah. Kehidupan di depan tidak jelas nasibnya. Background komputer sengaja diisi dengan sebuah tulisan pengingat โ€œGet Your Shit Togetherโ€, tapi tiap hari kian terasa tak ada efeknya. Pikiran bebal ๐Ÿ˜ฆ

Menulis curahan perasaan ini di tengah kantong sekarat, perut kosong, lantai yang dingin, koneksi internet yang lemot dan diiringi alunan Karma Police yang menyayat itu menambah pekat awan hitam lindung di atas kepala dengan nyamuk-nyamuk imajiner yang bertebangan. Seolah Thom Yorke ikut-ikutan mengumpat saya dengan sajak sarkasnya. Jam segini seharusnya sudah tidur, tapi apa daya mata tidak mau. Jika dipaksakan menelentangkan badan di kasur pun, waktu akan habis memikirkan kapan mata ini bisa terpejam. Di satu sisi mungkin lebih baik kalau dipakai untuk menulis, walau isinya memalukan.

Ya Allah beri hamba pertolongan, jadikan 2015 sebagai my turning point.

Advertisements

7 thoughts on “Sepi Tertinggalkan Waktu

  1. Memalukan? Sebelah mana ya? Kok saya nggak nemu? Yang pasti setahu saya tidak mudah nulis macam-macam soal yang saling desak secara utuh dan fokus, cuma dalam 300-an kata. Bravo, Hendro! ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s