Hidup Susah Mati Tak Mau

Sudah hampir satu bulan momen buruk yang merubah peta hidup saya itu berlalu. Hidup susah matipun  tak mau, kata orang. Tak ada alasan logis untuk mendramatisir keadaan ini jauh lebih buruk, depresi ataupun melukai jasmani. Saya sudah cukup tidak tau diuntung. Tidak ada hak untuk berlarut-larut memupuk kegalauan, hanya akan menambah penderitan orang tua saja.

Sebagaimana lazimnya orang gagal, yang dicoba adalah mencari alternatif jalan hidup yang lain. Sebelum Idul Fitri kemarin dapat kesempatan menemani Om, bantu-bantu berdagang. Kondisinya lumayan enak, jauh lebih enak daripada pedagang musiman lainnya di lokasi yang sama. Tidak susah, tetapi tidak juga saya menikmatinya, saya tidak punya jiwa dagang. Kadang saya meragukan diri sendiri, apa benar saya ini orang Minang? Tidak bisa dagang, tidak jago masak, tidak suka maota, tidak bisa main koa, dll. Hampir semua spesialisasi orang Minang tidak saya kuasai.

Sekarang di rumah mencoba menyusun lagi peta hidup yang berantakan, mereka-reka apa yang akan dilanjutkan selanjutnya. Akankah nanti membuahkan hasil atau tidak, saya tidak tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s