Veronika (1998)

Walau sangat paham akan manfaat yang besar dari membaca, saya bukanlah orang yang terlahir atau terbiasa membaca buku secara rutin. Beberapa waktu terakhir ini saya “paksakan” membaca agar nantinya dapat membudaya dalam kehidupan saya ke depan. Semua buku yang ada di rumah, saya usahakan menyantapnya terlebih dahulu, apapun genrenya, sebelum merangkak ke toko buku dan perpustakaan. Karena saya beranggapan tidak baik terlalu pemilih dalam membaca, selain juga tidak punya duit beli buku baru :P. Sengaja bikin akun di goodreads.com & mulai menulis review buku di blog ini sebagai bagian dari motivasi baca. Jadi jika review yang saya tulis selama ini & yang akan datang kelihatan amatiran, mohon dimaklumi saja ya ^^’.

veronika

Novel adalah jenis buku yang kurang saya gemari. Ada juga sih beberapa novel yang saya baca sebelumnya, tapi mayoritas karena latah, best seller atau ceritanya difilmkan sehingga saya jadi penasaran. Karena tidak begitu familiar dengan dunia per-novel-an, maka saya juga tidak kenal dengan Paulo Coelho. Setelah baca beberapa testimoni di sampul belakang buku VERONIKA ini dan googling tentang penulisnya, barulah saya sadar bahwa dia sangat populer. Followernya di Twitter juga jutaan. Dengan pengetahuan yang minim, ekspektasi saya juga tidak tinggi. Bisa tuntas baca 5 halaman saja sebelum ketiduran, sudah syukur, pikir saya waktu itu. Nyatanya saya malah mendapati diri saya menghabiskan beberapa bab sekali jalan, padahal saat itu sudah lewat tengah malam.

Satu hal yang paling saya suka ketika membaca sebuah cerita adalah jika cerita tersebut relatable dengan keadaan atau yang saya rasakan. Kebetulan ketika baca buku ini beberapa bulan yang lalu, kondisi emosi saya berada pada kondisi yang paralel dengan Veronika. Banyak bagian yang benar-benar menonjok kepala dan menusuk dada. Membuat saya beberapa kali berhenti dan merenung sejenak.

Hal lain juga buku ini memperlihatkan kondisi kehidupan konflik lain di Balkan yang tidak begitu mendapat sorotan internasional. Selama ini yang paling popular ke permukaan adalah konflik Serbia – Bosnia, jarang sekali kita mendengar tentang hal yang terjadi di Slovenia. Pertama kali saya mendengar negara ini malah ketika mereka lolos Piala Dunia 2002, dengan seragamnya berwarna hijau berornamen halilintar.

Yang agak kurang dari buku ini mungkin, ketika memasuki 1/3 bagian akhir, ceritanya seperti kehilangan fokus & antiklimaks. Sehingga semangat baca saya di awal jadi mengendor.

My rating: ★★★☆☆

Advertisements

9 thoughts on “Veronika (1998)

  1. Menurut aku mendingan baca topik yang kamu suka. Jangan habiskan waktu untuk hal gak menarik untuk kamu. Contoh saya suka baca, tapi kalo topiknya politik atau ekonomi suka ketiduran. hahaha

  2. numpang komen mas.
    mainannya perasaaan bgt mas wkwkw, the winner stand alone juga bagus tuh, menurut saya ya, harus balance, banyak juga istilah2 atau sesuatu yang eureka yang bisa didapat dari membaca diluar ketertarikeun. btw, saya juga ngikutin geopol timteng, cuma belum sempat nulis soal itu ahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s