19 Maret 2016: Bapakku Dipanggil Pulang Oleh Allah

1

Sabtu, 19 Maret 2016, jam 01.50 WIB, Apa (begitu saya & adik-adik memanggil Bapak) ‘dipanggil pulang’ oleh Allah SWT di RSUP M. Djamil Padang.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Tepat sepekan sebelumnya, Sabtu pagi tanggal 12 Maret, Apa membangunkan saya dengan nada sedikit marah karena saya masih malas-malasan di kasur. Pagi itu harusnya saya mengantar Ama pergi bekerja, tapi sungguh mata sangat berat, karena baru tertidur beberapa jam sebelumnya. Kebiasaan buruk yang sangat tidak disukai oleh Apa & Ama yang sampai sekarang masih sering saya lakukan. Karena tiba-tiba turun hujan, maka akhirnya Apa yang mengantar Ama dengan mobil. Sementara saya balik ke kasur melanjutkan tidur di kamar di lantai 2.

Lalu kemudian saya dibangunkan oleh teriakan keras memanggil berkali-kali dari adik laki-laki — yang kini duduk dibangku kelas 2 SMA, kebetulan hari itu dia masuk sekolah siang jadi masih di rumah. Sontak saya langsung melompat dari tempat tidur menuju sumber teriakan. Mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata dia sedang berada di atas loteng rumah, dia berteriak sekali lagi “Apa jatuaaah!”

Sekejap kami berhamburan ke lantai bawah. Mendapati Apa di lantai sedikit kejang dan muntah-muntah, yang saat itu sudah dipegangi oleh adik yang perempuan. Apa terjatuh dari loteng, jeblos dari platform triplek dengn ketinggian sekitar 3,5 meter.

Pagi itu ketika saya masih tertidur, ternyata Apa sudah balik dari mengantar Ama dan sempat makan lontong dulu di jalan pulang. Sesampai di rumah beliau bersama adik saya yang laki-laki naik ke atas loteng memeriksa bagian yang bocor. Belakangan ini beliau, saya ataupun adik memang sering mengecek ke atas karena ada beberapa bagian atap yang bocor, apalagi dengan kondisi penghujan akhir-akhir ini. Kebetulan di rumah kami memang ada pintu kecil dekat tangga ke lantai 2 yang disediakan untuk masuk ke loteng, tidak susah masuk ke dalam & kondisi kerangkanya juga cukup kokoh. Saat itu beliau & adik yang naik ke atas, lalu dengan kehendak Allah terjadilah musibah tersebut.

Kami langsung membawa Apa ke RS Ibnu Sina Bukittinggi, namun setelah 3 hari di sana, atas saran dari kerabat & teman-teman Apa, kami memilih memindahkan beliau ke RSUP M. Djamil Padang. Alasannya karena kami merasa beliau kurang diperhatikan di sana, sementara kondisi beliau terus memburuk. Selasa sore kami sampai di Padang. Ada sedikit perasaan lega, karena di sana langsung dikasih perawatan dan dokter langsung menjelaskan bagaimana kondisi beliau saat itu. Setelah beberapa scanning & pemeriksaan di labor ternyata diketahui Apa mengalami pendarahan di 3 titik di kepala & patah tulang punggung. Kondisi Apa sangat berat, kesadarannya berada pada level 8 (level orang normal: 15), kami diperingatkan kondisi beliau sewaktu-waktu bisa memburuk.

Jujur saja ketika dipindah ke Padang, ada perasaan optimis. Bahkan saya & Ama sempat berbincang tentang rencana bagaimana pemulihan ke depan dan di mana Apa akan ditempatkan setelah di ruang HCU Bedah tersebut. Dokter mengisyarakatkan tidak perlu dilakukan operasi, cukup dengan pemulihan saja. Rabu dini hari, beliau mulai bisa membuka mata, mencoba bicara walau tidak jelas, dan tangan saya diremas-remas oleh beliau merespon apa yang saya katakan. Malam itu kami sekeluarga bisa sedikit tersenyum, punya harapan positif berangsur-angsur beliau akan pulih.

Hari berikutnya kondisi beliau menurun, sesak nafas & panas tinggi. Hingga Jum’at malam masih seperti itu. Malam itu giliran saya yang jaga, karena memang dalam ruangan tersebut hanya boleh ditunggui 1 orang. Ama & adik balik ke penginapan. Setelah baca buku & Al-qur’an, saya ketiduran di sisi tempat tidur beliau.

Yang saya tahu berikutnya pundak saya digoyang-goyang dibangunkan oleh para perawat, kondisi Apa tiba-tiba kritis. Sementara mereka berusaha, saya disuruh membisiki ke telinga beliau. Saya yang kaget karena dibangunkan secara tiba-tiba, seketika paham kondisi saat itu. Mendekat & mendekap beliau seraya membisiki kalimat “Lailahaillallah“, serta terus mencoba membangunkan.

Beberapa saat kemudian suara gaduh para perawat yang bekerja di sekitar tempat tidur tak terdengar lagi. Saya yang saat itu masih mendekap beliau tersentak, jantung ini berdegup kencang, kemudian dokter jaga memeriksa dan memberi tahu bahwa beliau sudah tidak ada lagi. Rasanya saat itu dada bagai dihantam seribu orang. Momen paling menyakitkan selama hidup ini. Apa menghembuskan nafas terakhir di depan saya.

Ketika ajal menjemput tidak ada yang bisa kita lakukan memang. Semua sudah rencana Allah SWT. Beliau yang sehari-harinya cukup sehat. Beliau yang sebelumnya tidak punya riwayat dirawat di rumah sakit, akhirnya dipanggil Allah diumur 61 tahun. Dan jika benar yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD waktu itu, semoga Apa benar-benar ditempatkan dengan orang-orang terbaik di tempat terbaik di sisi-Nya.

Apa baru saja pensiun beberapa waktu yang lalu, belum genap 1 tahun. Kami sekeluarga, terutama saya masih sangat bergantung pada beliau dalam banyak hal. Beberapa bulan yang lalu saya melakukan sesuatu yang sangat mengecewakan yang dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua. Belum sempat saya menebus kesalahan itu, belum sempat beliau melihat anak sulungnya ini berhasil, belum sempat beliau merasa tugasnya terhadap anak selesai, namun Allah memutuskan cukup sampai di sini untuk beliau. Maafkan Hendro, Pa!

Mohon do’a dari teman-teman untuk bapak saya. Semoga kita menjadi anak-anak saleh bagi bapak & ibu kita masing-masing yang terus bisa mengucurkan pahala untuk mereka lewat do’a yang tak pernah terlupa.

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

Advertisements

12 thoughts on “19 Maret 2016: Bapakku Dipanggil Pulang Oleh Allah

  1. Turut berduka cita ya Hendro. Innalillahi wainna ilayhi rojiun… Semoga diampuni segala kesalahannya, diterima amal ibadahnya, dan dilapangkan di alam kubur. Aamiin…

  2. Innalillahi wainna ilaihirojiun… semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah dan yang ditinggalkaj diberi kesabaran dan ketabahan. Yang kuat ya mas… ayo perbaiki diri dan doakan bapaknya biar tenang dan bahagia di alam kubur. Amin

  3. Innalillahi wainna ilaihirojiun, semoga “Apa” dilapangkan menuju rumah keabdiannya,
    dan Hendro beserta keluarga diberi kekuatan untuk melanjutkan semua impian beliau. Semoga semua mendapatkan yang terbaik, Aamiin.

  4. Turut berduka cita ya mas hendro, semoga amal dan ibadah bapaknya diterima Allah SWT, semoga keluarga diberikan ketabahan dan kemudahan dalam menjalani hari-hari kedepan. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s