Kartini? Rohana Kudus Did It Better

Tulisan ini pernah saya post di tempat lain setahun yang lalu, sekarang saya angkat ke sini.

Setiap tanggal 21 April jadi hari untuk apresiasi emansipasi wanita nasional. Diskusi dan bacaan tentang kesetaraan gender berserakan dimana-mana. Para wanita sibuk ber-kebaya ria, entah apa relevansinya dengan emansipasi wanita, lebih kepada euforia dan gimmick saja, berpakain seperti fashionnya Kartini kala itu. Bahkan ada yang menjadikan lukisan Kartini sebagai berhala.

Mengapa Harus Kartini? Mengapa bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini? Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan‘ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita“. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan istri asisten residen, Ovink. Kemudian penasehat pemerintah Hindia Belanda, Cristiaan Snouck Hurgronje, mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang untuk pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih bertujuan untuk memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.

Banyak sekali pahlwan wanita yang punya andil lebih besar dibanding Kartini. Sebut saja Safiatuddin Johan, Siti Aisyah We Tenriolle, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Malahayati, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Apalagi yang paling sering dibandingkan dengan Kartini, yaitu Cut Nyak Dien. Banyak yang menolak Kartini & Cut Nayak Dien untuk dikomparasikan, karena sifat perjuangannya yang berbeda. Cut Nyak Dien berjuang dengan senjata, sedangkan Kartini berjuang dengan “pena” begitu kata mereka.

Baiklah, namun bagaimana kalau kita ambil salah satu contoh nama di atas yang juga berjuang dengan “pena”, Rohana Kudus nama orangnya.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, Rohana sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenal karena orang Belanda yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang), Perempuan Bergerak (Medan), Radio (Padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Dialah jurnalis perempuan pertama Indonesia.

Rohana Kudus lahir tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan sedangkan ibunya bernama Kiam. Nama Kudus sendiri diambil dari nama suaminya, Abdul Kudus.

Rohana Kudus juga merupakan kakak tiri (saudara seayah) dari salah satu perintis kemerdekaan Sutan Sjahrir. Ayahnya menikah dengan ibu Sjahrir setelah ibunya meninggal. Rohana juga merupakan sepupu Haji Agus Salim, karena kakek Rohana dan Agus Salim saudara  kandung. Penyair terkenal Chairil Anwar juga merupakan keponakan Rohana Kudus.

Rohana disapa dengan panggilan “One” oleh ayah dan adik-adiknya. Sejak kecil ia tidak bersekolah, karena seperti umumnya perempuan Minangkabau waktu itu tidak dikirim ke sekolah formal. Meski demikian ia gemar belajar dengan membaca buku dan koran.

Karena kecerdasannya sejak usia 8 tahun ia sudah mahir menulis dalam bahasa Melayu, Arab, dan Arab Melayu dan kegiatannya tersebut terus berlanjut hingga dewasa.

Dari seorang tetangganya yang seorang istri pejabat Belanda, Rohana diajarkan keterampilan seperti menjahit, menyulam, merenda, merajut. Selain itu, Rohana pun dikenalkan dengan berbagai majalah berbahasa Belanda.

Saat berumur 24 tahun Rohana menikah dengan Abdul Kudus, sepupunya. Dia seorang aktivis dan notaris yang sering menulis kritik terhadap pemerintah Belanda di koran-koran lokal. Suaminya adalah orang yang berpikiran maju. Dia sangat mendukung cita-cita Rohana untuk memajukan kaum perempuan Minangkabau.

Dari seorang suami seperti itulah, Rohana menunjukkan komitmennya yang kuat pada dunia pendidikan terutama untuk kaum perempuan dengan mendirikan sekolah Keradjinan Amai Setia pada tahun 1911, dalam sekolah tersebut juga diajarkan agar para wanita bisa baca-tulis, menjahit, menyulam. Selain itu diajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan agama.

Tahun 1915 organisasi ini dapat pengakuan badan hukum dari pemerintahan Hindia Belanda, yang sampai sekarang pusat keterampilan ini masih eksis sebagai pusat penjualan hasil kerajinan khas Minangkabau, yang berlokasi di Koto Gadang Bukittinggi, Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Setelah mendirikan sekolah keterampilan, Rohana melihat bahwa saat itu tidak ada koran khusus untuk perempuan. Maka ia mengirim surat berisi permohonan kepada pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja. Rohana meminta Sutan agar bersedia mendanai berdirinya koran untuk perempuan di Minangkabau. Sutan Maharadja terkesan dengan surat Rohana hingga ia menemui Rohana untuk membicarakan penerbitan pertama koran tersebut.

Akhirnya pada 10 Juli 1912 Surat kabar Wanita Indonesia pertama terbit dengan pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan. Soenting Melajoe yang ditujukan bagi perempuan Melayu. Sunting sendiri artinya perempuan.

Disini Rohana menjadi pemimpin redaksinya dengan dibantu Ratna Djuwita yang merupakan anak dari Datuk Sutan Maharadja. Di surat kabar ini Rohana banyak menyoroti kehidupan perempuan. Ia juga menolak poligami karena akan merugikan perempuan dan keluarga.

Ketika pindah ke Bukittinggi, Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Rohana School”. Rohana School sangat terkenal muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Rohana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai pemimpin redaksi Sunting Melayu membuat eksistensinya tidak diragukan.

Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Rohana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit Singer. Selain belajar membordir Rohana juga menjadi agen mesin jahit. Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.

Dalam masa revolusi dan mempertahankan kemerdekaan RI, Rohana ikut turut serta berjuang. Berbekal kemampuan jurnalistiknya, ia turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya. Artikel-artikelnya membakar semangat juang para pemuda untuk melawan Belanda. Rohana memiliki sumber informasi pergerakan politik yang banyak, baik dari Sutan Sjahrir maupun H.Agus Salim.

Selain memelopori berdirinya dapur umum. Dia juga berperan aktif dalam membantu para gerilyawan. Rohana lah yang mencetuskan ide penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok. Penyelundupan ini sangat rapi sehingga tidak ketahuan oleh Belanda. Penyelundupan dilakukan dengan cara menyembunyikan senjata dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Sedikit berbeda dengan paham emansipasi menurut para feminis kekinian, Rohana ingin memajukan pendidikan wanita tanpa melepaskan kodrat-kodrat kewanitaannya. Emansipasi menurut Rohana ini bisa kita lihat dari quote-nya berikut:

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.”

Rohana telah menunjukkan pada masyarakat lokal bahwa perempuan ternyata bisa menjadi jurnalis handal yang tidak kalah dengan pria. Dialah jurnalis perempuan pertama Indonesia yang lantang menyuarakan hak-hak perempuan untuk mendapat pendidikan setara dengan laki-laki. Dialah yang membuktikan bahwa perempuan pun bisa berjuang mengobarkan semangat juang lewat tulisan.

Hingga usia tua, Rohana sering berpindah tempat tinggal mengikuti anak tunggalnya, Djasma Juni. Ia pernah merantau ke Lubuk Pakam dan Medan dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Ketika kembali ke Padang ia menjadi redaktur Surat Kabar Radio yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu di Padang. Beliau juga menjadi redaktur surat kabar Cahaya Sumatera. Beliau meninggal pada 17 Agustus 1972 di Jakarta.

Kemudian kenapa Rohana Kudus kalah pamor dibanding Kartini? mungkin karena dia bukan orang Jawa atau mungkin karena faktanya dia adalah saudara Sutan Sjahrir, tokoh yang sering bertengkar dengan Soekarno, dan banyak kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Wallahualam.

Dan perlu diingat, Kartini adalah seorang istri ketiga, korban dari sebuah pernikahan poligami. Menjadikannya sebagai perlambang sikap egaliter & wanita modern yang dinamis rasanya kurang ideal.

[Ref: wikipedia, muslimdaily.net, kanalwan.com, minanglamo.blogspot.com]

Advertisements

5 thoughts on “Kartini? Rohana Kudus Did It Better

  1. Tanpa mengecilkan peran Kartini, sy sepakat dg tulisan ini.
    Sedikit menggelitik di bagian akhir yg menyebut kemungkinan Rohana Kudus tidak dipilih adalah karena kekerabatannya dg Sutan Sjahrir.

  2. baru kenal dengan Rohana Kudus..dan jurnalis wanita pertama Indonesia..salut..
    kumpulan tulisan2 beliau tidak ada yang membukukan juga ya??

    terima kasih sudah mengenalkannya 🙂

  3. Anak dari istri ketiga, kemudian jadi istri ketiga. Contoh ideal poligami. Jangan teriak-teriak menentang poligami, sementara dari dulu banyak contohnya.
    hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s