Ignorancia

Semalam Ama mengajak kami shalat tarawih di tempat lain, biar ada variasi. Hal yang dulu juga sering dilakukan dengan almarhum Apa pada Ramadan terdahulu. Kali ini kami shalat di masjid yang sedikit lebih fancy dari surau dekat rumah. Begitu juga dengan ceramahnya yang bertema lebih mendalam, menyesuaikan dengan demografi jamaahnya. Ceramah membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan hari akhir.

Ceramah dimulai dengan sindiran terhadap gaya ustad di televisi yang dipenuhi dengan gimmick-gimmick pencari rating. Saya mengangguk-agguk secara imajiner, menyerukan kesepahaman. Kepala saya antusias mendongak ke atas, karena ustad yang satu ini berpotensi menambah wawasan baru keagamaan yang menarik & membuat rasa kantuk tidak sanggup muncul ke permukaan. Setengah jalan dilalui saya begitu menikmati ceramah tersebut, bahkan setiap hadist yang dibahas dikasih tahu sumbernya, halaman berapa, alternatif referensi online-nya, hingga harga bukunya segala hahaha :D.

Tapi kemudian ada momen saya harus mengerinyitkan dahi, ketika pak ustad tersebut becerita tentang sebuah kisah seorang muslim China yang datang dari Korea. Mungkin maksudnya dia orang China tapi tinggal di Korea. Tapi besar dugaan saya pak ustad ini sedikit ignorant terhadap geografi dunia, menganggap Korea bagian dari China. Karena beberapa saat kemudian dia juga menceritakan tentang seorang tokoh penghafal hadist belajar lama di Bucharest, di Rusia katanya, lho bukannya Bucharest  itu di Rumania, gimana sih Tad? 😕 . Cuma hal kecil remeh temeh sih, tapi cukup membuyarkan semangat saya mengikuti ceramah dengan khidmat.

Apalagi dia menutup ceramahnya dengan hal yang membuat saya jadi ilfeel. Menggiring opininya menyerempet masalah politik tentang isu basi propaganda kristenisasi dengan agendanya menguasai Indonesia tahun 2019. Tahu sendiri lah siapa yang disindir, itu loh orang Belitung yang sekarang lagi duduk di DKI-1. Orang-orang penjaga makam yang dulu pernah mendapat bantuan pergi umrah dari gubernur Jakarta juga ikut dikatain “Kok mau-maunya dikasih orang kafir?”

Sangat malas jika ustad sudah berbicara tentang hal-hal yang tidak begitu ia kuasai, apalagi disuarakan dengan nada percaya diri, kadang juga sedikit sombong atas opini subjektifnya di depan orang banyak. Seperti masalah konflik Syria yang sering juga disinggung para ulama. Menhitam-putihkan masalah di sana pada level kasar muslim vs kafir atau Sunni vs Syiah.

Pada dasarnya, siapa sih yang suka orang sok tahu? :/

Advertisements

3 thoughts on “Ignorancia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s