Messi (2012) : Bukunya Tak Seelegan Orangnya

Tadinya ingin buat ulasan ini setelah final Copa Centenario biar momennya pas, tapi kenyataanya Argentina gagal lagi di final, dan buruknya Messi juga merupakan salah satu faktor kegagalan  mereka selain Lucas Biglia. Messi seakan dikutuk dengan ketidakberuntungan di tim nasional. Katanya ini sudah yang final keempat dia gagal membawa Argentina juara. Sebelumnya ada final Piala Dunia kalah dengan Jerman, final Copa America yang sebelum ini juga kalah dengan Chile dan satu lagi kalau tidak salah juga final Copa America keok lawan Brazil.  Padahal sebenarnya penampilannya di Copa Centanario adalah yang paling bagus selama berseragam tim nasional senior menurut saya. Biasanya selalu ada kesenjangan yang jauh antara permainannya di Barcelona & timnas Argentina, tapi di turnamen ini tampak sekali dia bermain lepas. Semacam akhirnya menemukaan settingan yang pas untuk dimainkan dengan gaya pemain Argentina lainnya. Gol  tendangan bebasnya ke gawang Amerika jadi salah satu momen terindah sepakbola tahun 2016 ini.

Predikat pemain terbaik dunia yang diraih berkali-kali tidak akan lengkap tanpa prestasi di level internasional. Bisa dibilang belum sah dikatakan sebagai pemain terbaik. Saya selalu cuma bisa tersenyum sinis ketika membaca atau mendengar fans garis keras Lionel Messi ataupun Christiano Ronaldo membual bahwa idolanya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Melewati capaian  Zinedine Zidane atau Ronaldo Luís Nazário de Lima saja belum. Jangan kelewat delusi.

Puncak dari rasa frustrasi, Messi menyatakan keinginannya untuk mundur dari timnas. Memang belum jelas atau seberapa bulat keputusannya tersebut, bisa saja hanya karena luapan emosi sesaat saja. Tapi jika dilhat-lihat., Piala Dunia di Brazil kemarin & Copa Centanario ini sebenarnya adalah waktu yang paling pas untuk seorang Messi memeberi gelar untuk Argentina. Berada pada periode puncak permainan, kedewasaaan dan umur emas sebagai seorang pesepakbola. Umur 26-29 sering disebut banyak orang adalah umur emas dalam sepakbola. Sayangnya pada periode tersebut dilewati Messi tanpa gelar, yang sakitnya lagi dikalahkan di final secara beruntun, padahal cuma tinggal selangkah lagi.

Bisa saja nantinya jika Messi benar-benar pensiun dari timnas, Argentina malah jadi berjaya. Seperti yang dialami Raul Gonzales. Bertahun-tahun sukses dengan Real Madrid, Raul tidak pernah bisa menunjukkannya di level timnas.  Namun Ketika Luis Aragones memutuskan tidak mengikutsertakannya dalam skuat, keputusan besar waktu itu, Spanyol malah berjaya menjuarai Euro 2008, lalu berlanjut juara dunia 2010 dan Euro 2012. Pada masa tersebut Raul tidak pernah masuk lagi ke timnas. Dia seakan jadi pemain bintang yang dikutuk. Walaupun sekarang timnas Spanyol sudah mulai kendor lagi.

Untuk Messi saya percaya, jikapun dia memutuskan pensiun, nanti pas piala dunia dia bakal balik lagi. Bakal jadi cerita indah seorang pahlawan untuk negaranya seperti Zinedine Zidane pada piala dunia 2006. Apalagi kalau bisa juara. Mayoritas masyarakat Argentina pasti tidak rela Messi pensiun dini seperti ini. Seperti komentar salah satu remaja tanggung Argentina yang menyambut kedatangan timnas Argentina di bandara beberapa waktu yang lalu “Apa gunanya Negara ini punya pemain terbaik di dunia, tapi kau tak bias memainkannya untuk timnas”.

Saya sendiri sebenarnya bukan fan Messi. Tapi jika SEKARANG disuruh milih antara Ronaldo dan Messi, saya lebih suka Messi. Tetapi secara umum saya bukanlah  penggemar khusus seorang pemain atau individu dalam sepakbola. Saya tidak menganjurkan hal seperti itu juga, karena malah kelihatan seperti fandom musik atau selebritis. Kalau dilihat-lihat fans yang hardcore pada satu orang seperti itu kebanyakan juga datang dari para remaja tanggung yang sibuk berantem tidak penting dengan fans pemain lain, tidak beda jauh dengan prilaku fans-fans seleb semacam Justin Bieber, Taylor Swift dkk. Tetapi untuk tim, anda wajib punya favorit sendiri. Jangan labil, harus konsisten. Karena di situ lah salah satu letak kesenangan menjadi seorang penggemar sepakbola. Kalu tidak, besar kemungkinan anda sebenarnya tidak benar-benar suka sepakbola. Cuma ikuta-ikutan saja. Lebih baik cari olahraga lain.

messi

Buku ini saya dapat dari adik saya, seorang fan Barcelona, fan angin-anginan -kipas angin yang diangin-anginin sih tepatnya. Merupakan terjemahan dari edisi buku yang diterbitkan di Inggris tahun 2012, edisi pertamanya diterbitkan tahun 2008 di Spanyol. Ditulis oleh Luca Caioli, seorang jurnalis olahraga  yang juga telah menulis biografi para olahragawan lainnya, termasuk juga Christiano Ronaldo.

Saya tidak terlalu sering baca buku biografi. Selain bentuknya tebal, harganya juga kebanyakan mahal, terutama buku biografi yang saya minati. Jadi tidak punya banyak bahan yang bisa dibandingkan dengan buku ini. Saya tidak tahu apakah ini salah satu metode penulisan biografi atau tidak. Tapi konten buku ini lebih banyak dari hasil wawancara orang-orang terdekatnya atau para figur yang pernah berhubungan dengannya dibanding wawancara dengan Messi sendiri. Seingat saya cuma ada 1 bab dari 40 bab yang merupakan hasil wawancara dengan Messi, bab paling akhir. Di sini kadang saya merasa sedih  sedikit kecewa karena buku ini jadi terasa tidak begitu personal dengan Messi, lebih terkesan sebatas bagian dari PR atau iklan dengan pihak ketiga saja.

Secara keseluruhan buku ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Kadang beberapa wawancara eksklusif di media yang sudah dilakukan Messi lainnya jauh lebih mengupas dan dibanding 40 bab buku yang lumayan tebal ini. Hanya saja mungkin dengan membaca buku ini kita lebih bisa menghimpun kisah-kisah seputaran Messi secara runtut. Mengetahui cerita sebenarnya dibalik rumor-rumor tentang Messi dari orang-orang terdekatnya. Walaupun kadang dibuat bingung juga karena cerita versi antara orang-orang yang diwawancarai dalam buku ini juga ada yang berbeda dan bahkan kontradiktif satu sama lain.

Satu yang cukup mengganggu adalah kecenderungan penulis yang sering sekali menekankan pembandingan Messi dan Maradona. Terlalu sering diulang-ulang. Hampir setiap narasumber selalu ditanyakan perihal ini. Di akhir setiap bahasan tersebut selalu berusaha menyarankan agar orang-orang jangan terlalu membanding-bandingkan mereka, lalu kemudian dibahas lagi berkali-kali di bab-bab berikunya :/. Padahal hampir bisa dipastikan Messi dan penggemarnya  tidak begitu menyukai hal ini. Terkesan lebih kepada gaya jurnalisme murahan ala The Sun dan Dailymail demi berburu headline. Memprioritaskan memasukkan tendensi opininya dibanding hal personal yang ingin disampaikan oleh objek buku ini sendiri, yaitu Messi.

Saya juga agak skeptis ketika melihat portofolio si penulis, Luca Caioli. Selain Messi dia juga telah menulis biografi olahragawan yang lain, sepert; Ronaldinho, Zidane, Fabregas, Torres, Benzema, C. Ronaldo, Mancini, Vicente del Bosque dan Lance Amstrong. Lho kok skeptis? Bukannya portofolio terlihat sangat ‘kaya’, mungkin ada yang bertanya begitu. Iya, memang kelihatan wow sekali. Sangat berpengalaman menulis biografi atlet terkenal. Tapi justru di sini terlihat kelemahannya. Kesannya menulis biografi bagi Luca Caioli tidak jauh beda dengan perkejaan jurnalisme yang lainnya, terlalu sering juga. Kurang terasa keintiman ketika membaca buku ini. Tidak banyak hal-hal personal yang dibahas. Rasanya akan berbeda mungkin, jika sebuah buku biografi ditulis oleh orang yang benar-benar dekat atau penggemar figur yang bersangkutan. Entahlah cuma asumsi kurang berdasar sebenarnya hehe :D.

Pada edisi terjemahan bahasa Indonesia ini juga diselipkan sebuah halaman khusus testimoni dari beberapa pengurus fansclub Barcelona Indonesia, yang saya rasa tidak begitu penting. Desain halamannya juga jelek.

Kesimpulannya, buku biografi Messi ini tidak seelegan pemainnya. Sorry not sorry

Rating: ★★★★★☆☆☆☆☆

Save

Laika (2007)

Sudah cukup lama saya baca buku ini sebenarnya, tapi baru sekarang sempat menulis ulasannya. Ini pertama kalinya saya menamatkan sebuah graphic novel. Sebelumnya sudah sering menyentuh jenis buku ini, tapi kebanyakan cuma dibaca sepintas lalu saja. Novel grafik ini berjudul Laika. Sebuah cerita ringan dengan setting pada keadaan yang cukup susah. Bercerita tentang anjing yang dijadikan sebagai awak percobaan pesawat ke luar angkasa. Karya Nick Abadzis berporos pada seekor anjing bernama Laika & Yelena, seorang pegawai perempuan di tempat pelatihan anjing-anjing yang akan digunakan untuk proyek luar angkasa Uni Soviet pada masa perang dingin. Seperti yang kita ketahui pada saat itu Amerika & Soviet juga gila-gilaan berlomba perihal masalah antariksa. Pada periode tersebut banyak lahir momen historis seperti Yuri Gagarin dari Soviet menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada tahun 1961. Lalu kemudian Amerika mengirim Neil Amstrong menjadi manusia pertama yang berjalan di bulan, belakangan banyak muncul teori konspirasinya bahwa footage perjalanan dia di bulan cuma rekayasa yang dibuat di daerah gurun Nevada 😕 :?:.

Laika merupakan perpaduan fiksi & kejadian asli circa 1957 dalam proyek luar angkasa Sputnik II. Laika adalah makhluk hidup pertama yang dicoba untuk diterbangkan ke luar angkasa. Dari segi cerita, cukup menarik karena diangkat dari kisah yang tersembunyi dari momen bersejarah Uni Soviet itu. Point Of View cerita berganti-ganti dari awal sampai akhir bukuDi sini yang saya sukai sehingga kita tahu gambaran keadaan yang cukup beragam. Proyek Sputnik II ini banyak nuansa politiknya. Desakan kerja dengan tempo yang sempit oleh Nikita Khruschev kepada tim pekerja agar proyek ini diselesaikan demi propaganda ke dalam (peluncuran dilakukan menyambut perayaan ulang tahun Revolusi Bolshevik) dan ke luar (persaingan dengan Amerika) terasa sangat pas. Membuat rakyat nasionalis Amerika jadi keder saat itu. Saya pun berpikir-pikir tidak heran jika kemudian teori konspirasi mempertanyakan  keaslian misi Neil Amstrong ke bulan itu bermunculan. Karena kondisinya pada saat itu para petinggi Amerika memang dalam keadaan panik pasca misi Laika ini, apalagi setelah keberhasilan Yuri Gagarin. Dalam keadaan “terdesak” seperti itu apapun bisa dilakukan demi propaganda menyelamatkan muka.

Walaupun diceritakan dari beragam sudut pandang, pusat cerita tetap masih dipegang Laika & Yelena. Di sini yang saya kadang merasa sedih kurang sreg, yaitu bagian point of view si anjing. Perihal bagaimana penulis menceritakan perasaan hati dari Laika, memberi kesan seperti tipikal cerita dongeng. Mungkin memang karena saya sendiri bukan penggemar cerita yang terlalu imajinatif, walaupun di buku ini tidak terlalu berlebihan sih tapi ya tetap saja ;).

Gaya ilustrasinya cukup simpel dan tidak terlalu mendetil, tidak seperti manga-manga Jepang. Gambar-gambarnya juga tidak “indah”. Tapi hebatnya saya merasa itu bukan satu kekurangan. Dengan ilustrasi sesederhana itu saya dapat menangkap deskripsinya dengan baik. Penggambaran yang paling memorable salah satunya ada di halaman-halaman awal. Gambar seorang lelaki yang berjalan di tengah salju yang lebat, suhu yang menusuk dengan kondisi letih & kelaparan. Ilustrasi yang merangsang untuk membaca buku ini lebih lanjut.

Membaca cerita bergambar memang menyenangkan. Kita cukup terbantu dengan visualisasi yang disediakan. Saya sendiri juga lumayan suka komik, walaupun kebanyakan sering kandas di tengah jalan, karena umumnya komik punya banyak seri & panjang. Lihat saja One Piece, sampai sekarang masih eksis. Saya jadi tergopoh-gopoh mengikutinya, sehingga sekarang  sudah ketinggalan jauh sekali. Maklum bukan pecinta komik garis keras :mrgreen:. Kalau dulu waktu jaman sekolah masih enak, pulang sekolah bisa mampir ke taman bacaan yang menyewakan baca komik di tempat atau bisa dibawa pulang juga. Tapi sekarang sudah susah.

My rating: ★★★☆☆

Veronika (1998)

Walau sangat paham akan manfaat yang besar dari membaca, saya bukanlah orang yang terlahir atau terbiasa membaca buku secara rutin. Beberapa waktu terakhir ini saya “paksakan” membaca agar nantinya dapat membudaya dalam kehidupan saya ke depan. Semua buku yang ada di rumah, saya usahakan menyantapnya terlebih dahulu, apapun genrenya, sebelum merangkak ke toko buku dan perpustakaan. Karena saya beranggapan tidak baik terlalu pemilih dalam membaca, selain juga tidak punya duit beli buku baru :P. Sengaja bikin akun di goodreads.com & mulai menulis review buku di blog ini sebagai bagian dari motivasi baca. Jadi jika review yang saya tulis selama ini & yang akan datang kelihatan amatiran, mohon dimaklumi saja ya ^^’.

veronika

Novel adalah jenis buku yang kurang saya gemari. Ada juga sih beberapa novel yang saya baca sebelumnya, tapi mayoritas karena latah, best seller atau ceritanya difilmkan sehingga saya jadi penasaran. Karena tidak begitu familiar dengan dunia per-novel-an, maka saya juga tidak kenal dengan Paulo Coelho. Setelah baca beberapa testimoni di sampul belakang buku VERONIKA ini dan googling tentang penulisnya, barulah saya sadar bahwa dia sangat populer. Followernya di Twitter juga jutaan. Dengan pengetahuan yang minim, ekspektasi saya juga tidak tinggi. Bisa tuntas baca 5 halaman saja sebelum ketiduran, sudah syukur, pikir saya waktu itu. Nyatanya saya malah mendapati diri saya menghabiskan beberapa bab sekali jalan, padahal saat itu sudah lewat tengah malam.

Satu hal yang paling saya suka ketika membaca sebuah cerita adalah jika cerita tersebut relatable dengan keadaan atau yang saya rasakan. Kebetulan ketika baca buku ini beberapa bulan yang lalu, kondisi emosi saya berada pada kondisi yang paralel dengan Veronika. Banyak bagian yang benar-benar menonjok kepala dan menusuk dada. Membuat saya beberapa kali berhenti dan merenung sejenak.

Hal lain juga buku ini memperlihatkan kondisi kehidupan konflik lain di Balkan yang tidak begitu mendapat sorotan internasional. Selama ini yang paling popular ke permukaan adalah konflik Serbia – Bosnia, jarang sekali kita mendengar tentang hal yang terjadi di Slovenia. Pertama kali saya mendengar negara ini malah ketika mereka lolos Piala Dunia 2002, dengan seragamnya berwarna hijau berornamen halilintar.

Yang agak kurang dari buku ini mungkin, ketika memasuki 1/3 bagian akhir, ceritanya seperti kehilangan fokus & antiklimaks. Sehingga semangat baca saya di awal jadi mengendor.

My rating: ★★★☆☆

Rahasia Presentasi Steve Jobs (2009)

Saya bukanlah seorang fan Steve Jobs, bapaknya Apple, bukan karena saya berada di kubu garis keras pendukung Microsoft juga, tapi sederhana karena produk-produk Apple itu mahal 😡. Saya kan kere mana sanggup beli. Keinginan membeli iPod dari dulu hanya nyangkut di mimpi, padahal iPod sudah berapa kali keluar seri terbarunya sejak saya punya keinginan tersebut. Jangan kan itu, beli es krim Magnum saja saya mesti keliling mini market dulu dua kali buat mikir sebelum merapat ke lemari es.

Jadi itu salah Steve Jobs? salah teman-temannya Steve Jobs? ya tidak, yang salah itu saya karena tidak punya duit :'(.

Jpeg

Buku “Rahasia Presentasi Steve Jobs” ini saya pinjam dari teman se kos di Jogja untuk menemani perjalanan bolak balik. Tapi seperti biasa, buku ini lebih berfungsi sebagai pemberat tas saja. Pernah sempat keluar saya baca saat di atas bus, tapi belum 2 paragraf kepala sudah pusing karena baca nunduk sambil digoyang di dalam bus memang tidak nyaman. Di bandara sebenarnya tempat yang nyaman untuk membaca buku ini, apalagi saat itu nunggu penerbangan memakan waktu cukup lama, alih-alih baca saya malah asyik internetan memamfaatkan wifi gratis bandara :mrgreen:.

Karena buku ini sudah terlanjur di tangan maka mau tak mau harus ditamatkan, kesannya terpaksa banget ya :D. Buku ini aslinya berjudul “The Presentation Secret of Steve Jobs How to Be Insanely Great in Front of Any Audience” karangan Carmine Gallo. Lalu diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia dengan judul seperti di atas.

Memulai baca dengan perasaan cuku skeptis dan minim ekspekatasi, tapi ketika telah selesai menamatkan 1 bab, perasaan tersebut mulai berubah. Lumayan juga, tidak semembosankan yang saya bayangkan. Dari segi konten sebenarnya buku ini bisa dirangkum dalam 1 bab saja. Namun penulis menjabarkannya ke beberapa bab yang kadang terkesan dilebih-lebihkan dan repetitif. Bahkan media video mungkin lebih pas dalam menyampaikan maksud dari buku ini, karena isinya yang menjelaskan tentang cara & gerak gerik Steve Jobs ketika menyampaikan presentasi.

Saya membaca buku ini setelah menonton ulang film Thailand “The Billionaire”, itu loh film populer tentang pengusaha rumput laut dan itu membuat iklim membaca terkoneksi, relatable. Karena buku ini cocok untuk entrepreneur muda yang mulai merintis usaha. Walau tidak banyak, tapi pesan & tips tentang cara Steve Jobs cukup melekat setelah dibaca. Atau setidaknya kita bisa menemukan beberapa kalimat inspiratif untuk dikutip dan di-post di media sosial :P.

Rating: ★★☆☆☆