Shadow Play

Jadi film propaganda G30SPKI tayangnya kemarin ya di tvOne? Kenapa nggak hari ini, pas tanggal 30? Tapi biarlah, tayang kapan pun juga emang gue pikirin (meminjam kata-katanya pak Gatot). Nonton TV sudah jarang sekali sekarang, apalagi tvOne, apalagi tontonan propaganda orba. Kalaupun ada hal menarik di TV yang terlewat bisa dicari lagi di youtube. Hidup generasi milenial 😎

Sejak hiruk pikuk penayangan kembali film propaganda tersebut, banyak ajakan  untuk menonton film-film lain sebagai penyeimbang, melihat perspektif lain dari sejarah kelam itu, karena sejarah ditulis oleh penguasa. Sayang ketika penguasa itu dilengserkan tahun 1998, narasi sejarahnya masih dipakai dalam kurikulum pendidikan bahkan hingga sekarang. Seorang guru sejarah SMP di Jambi pernah cerita tentang ini. Jadi jika melihat remaja-remaja tanggung yang militan di media sosial mencap PKI sana sini, jangan heran!

Judul-judul yang kerap disebut adalah Jagal dan Senyap. Jagal atau judul dalam bahasa Inggris-nya Act of Killing pernah saya tonton, sedangkan Senyap belum. Tapi dari trailer, sinopsis dan kenyataan film ini dibuat oleh orang yang sama yaitu Joshua Oppenheimer, saya kira dua film ini tidak jauh berbeda gaya penceritaanya. Jagal fokus pada cerita seorang figur pasca 1965 di Medan, trauma zaman sekarang & penyajian rekonstruksi secara  teatrikal. Jujur saja saya agak sedikit ngantuk ketika nonton film ini.

Jagal dan Senyap menurut saya kurang ampuh, bagus tapi kurang ampuh.

Alternatif lain yang seringkali saya sarankan adalah: Shadow Play

Film yang merangsang saya untuk lebih banyak baca tentang sejarah kelam ini. Sayang sampai sekarang belum ketemu versi HD nya.

Herannya tak banyak yang menyebut film ini ketika debat di media sosial, jarang sekali, yang diangkat Jagal & Senyap melulu. Yang saya ingat cuma sejarawan Bonnie Triyana yang membicarakannya beberapa hari yang lalu.

Berharap kedepan ada lagi film-film menyibak kisah 1965 ini, terutama dari lokal. Walaupun sulit. Seminar dan diskusinya saja dipersekusi, apalagi bikin filmnya siapa yang berani? Wallahualam, mungkin masih butuh waktu yang lama.

PS: Tadi saya nonton ulang film “Gie” dari Riri Riza, feel-nya lebih terasa ditonton pada waktu semacam sekarang ini.

Advertisements

Selonong Boi

Jika diperhatikan dengan seksama sinetron-sinetron Indonesia, ada satu hal yang acap kali mengusik seonggok daging dalam tengkorak saya. Rasanya hampir tidak pernah melihat adegan orang melepas alas kakinya ketika memasuki rumah. Asik selonong boi saja. Baik itu dengan setting cerita di rumah orang kaya yang mewah, maupun di rumah yang sedehana.

Okelah sinetron memang bukan acuan yang ideal untuk gambaran kehidupan masyarakat. Bagaimana dengan film? Film-film Indonesia sekarang makin marak dan kualiatasnya mulai membaik, tetapi nyatanya tidak jauh beda. Hal serupa juga dipertontonkan, di film “Emak Ingin Naik Haji” Reza Rahardian santai saja ber-sandal ria di rumahnya yang kecil & sederhana, sandal yang sama yang dipakainya di adegan-adaegan lain di luar rumah.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apa mungkin adab membuka alas kaki memasuki rumah ini hanya ada pada budaya daerah lokal saya saja? Apakah di daerah-daerah lain di Indonesia berbeda? Apakah di Jakarta (tempat mayoritas sinetron & film dibuat) tidak berlaku adab sepert ini?

Namun berdasarkan pengalaman, saya pernah masuk rumah-rumah orang di Bukittingi, Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo dll, tidak pernah sekalipun saya temui/disuruh/dipersilahkan masuk rumah dengan tetap menggunakan alas kaki.

Iya memang tak sedikit juga yang pakai sandal di dalam rumah, tapi biasanya itu memang disiapkan khusus untuk di rumah saja, bukan alas kaki yang sama yang dipakai dari luar, seperti kebiasaan orang di Jepang, Korea, dll. Atau dengan kondisi tertentu, ibu saya juga menggunakan sandal dalam rumah karena tidak tahan dengan dinginnya lantai keramik. Banyak orang-orang tua lain juga demikian.

Ini memang remeh temeh, tapi detil-detil kecil semacam ini jitu menunjukkan kultur kita kepada orang lain. Di film, drama dan acara TV Jepang dan Korea, hal ini sering kali dikasih lihat, yang membuat iri bagaimana mereka sebegitu rapi dan tertata. Sebagai media yang terbukti ampuh mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup sehari-hari, alangkah kerennya jika sinetron, film dan acara-acara TV di Indonesia juga mempertontonkan remeh temeh kultur yang mendidik seperti ini.

Pemandangan yang cukup membahagiakan ketika beberapa waktu yang lalu mengunjungi adik bungsu saya yang kini mondok di pesantren, waktu shalat di masjid alas kaki para santri tersusun rapi dengan ujungnya yang seragam mengarah keluar. Walaupun tidak serapi & se-njelimet orang-orang Jepang, tapi sudah lumayan bagus.

Remeh temeh yang baik untuk dibiasakan, disebarluasakan & lebih sering dipertontonkan di layar kaca.

Ignorancia

Semalam Ama mengajak kami shalat tarawih di tempat lain, biar ada variasi. Hal yang dulu juga sering dilakukan dengan almarhum Apa pada Ramadan terdahulu. Kali ini kami shalat di masjid yang sedikit lebih fancy dari surau dekat rumah. Begitu juga dengan ceramahnya yang bertema lebih mendalam, menyesuaikan dengan demografi jamaahnya. Ceramah membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan hari akhir.

Ceramah dimulai dengan sindiran terhadap gaya ustad di televisi yang dipenuhi dengan gimmick-gimmick pencari rating. Saya mengangguk-agguk secara imajiner, menyerukan kesepahaman. Kepala saya antusias mendongak ke atas, karena ustad yang satu ini berpotensi menambah wawasan baru keagamaan yang menarik & membuat rasa kantuk tidak sanggup muncul ke permukaan. Setengah jalan dilalui saya begitu menikmati ceramah tersebut, bahkan setiap hadist yang dibahas dikasih tahu sumbernya, halaman berapa, alternatif referensi online-nya, hingga harga bukunya segala hahaha :D.

Tapi kemudian ada momen saya harus mengerinyitkan dahi, ketika pak ustad tersebut becerita tentang sebuah kisah seorang muslim China yang datang dari Korea. Mungkin maksudnya dia orang China tapi tinggal di Korea. Tapi besar dugaan saya pak ustad ini sedikit ignorant terhadap geografi dunia, menganggap Korea bagian dari China. Karena beberapa saat kemudian dia juga menceritakan tentang seorang tokoh penghafal hadist belajar lama di Bucharest, di Rusia katanya, lho bukannya Bucharest  itu di Rumania, gimana sih Tad? 😕 . Cuma hal kecil remeh temeh sih, tapi cukup membuyarkan semangat saya mengikuti ceramah dengan khidmat.

Apalagi dia menutup ceramahnya dengan hal yang membuat saya jadi ilfeel. Menggiring opininya menyerempet masalah politik tentang isu basi propaganda kristenisasi dengan agendanya menguasai Indonesia tahun 2019. Tahu sendiri lah siapa yang disindir, itu loh orang Belitung yang sekarang lagi duduk di DKI-1. Orang-orang penjaga makam yang dulu pernah mendapat bantuan pergi umrah dari gubernur Jakarta juga ikut dikatain “Kok mau-maunya dikasih orang kafir?”

Sangat malas jika ustad sudah berbicara tentang hal-hal yang tidak begitu ia kuasai, apalagi disuarakan dengan nada percaya diri, kadang juga sedikit sombong atas opini subjektifnya di depan orang banyak. Seperti masalah konflik Syria yang sering juga disinggung para ulama. Menhitam-putihkan masalah di sana pada level kasar muslim vs kafir atau Sunni vs Syiah.

Pada dasarnya, siapa sih yang suka orang sok tahu? :/

Kartini? Rohana Kudus Did It Better

Tulisan ini pernah saya post di tempat lain setahun yang lalu, sekarang saya angkat ke sini.

Setiap tanggal 21 April jadi hari untuk apresiasi emansipasi wanita nasional. Diskusi dan bacaan tentang kesetaraan gender berserakan dimana-mana. Para wanita sibuk ber-kebaya ria, entah apa relevansinya dengan emansipasi wanita, lebih kepada euforia dan gimmick saja Continue reading

Semen

Sayang sekali Semen Padang gagal juara Piala Jenderal Sudirman yang kemarin. Padahal secara permainan mereka jauh lebih unggul dibanding Mitra Kukar. Tapi sejak Yu Hyunkoo diganjar kartu merah, permainan berubah dan akhirnya takluk 1-2. Selamat buat Mitra Kukar.

Walaupun saya orang Bukittinggi bukan orang Padang tapi tetap dukung Semen Padang. Wajar, seperti orang Garut dukung Persib, orang Kendal ngedukung PSIS, orang Lahat dukung Sriwijaya dll. Toh orang yang dari daerah lain yang cukup jauh pun tidak dilarang dukung tim daerah lainnya, bebas! Apalagi sejak PSP Padang entah dimana keberadaanya sekarang, satu-satunya klub harapan orang Minang tinggal Semen Padang.

Saya punya sedikit unek-unek tentang klub ini. Relatif tidak begitu penting sih hehehehe ^^’

Unfortunate Name
Berapa tahun yang lalu ketika Semen Padang ikut dalam AFC Cup, saat itu mereka bertanding away melawan klub Singapura. Pertandingan tersebut tidak disiarkan oleh stasiun TV lokal, begitulah kenyataan nasib klub luar Jawa yang jarang diliput karena dianggap tidak membawa rating tinggi. Saya terpaksa ‘menonton’ lewat lini masa Twitter saja waktu itu. Lalu ketemu satu twit yang cukup bikin panas kepala, karena gaya bahasanya yang mengolok-olok.

Sempat saya respon & cari tahu apa maksud si Josh ini & danggggg…. 😮

Serasa langsung kena skakmat di tempat. Maafkan saya waktu itu masih lugu & polos (sekarang pun masih). Juga tidak familiar dengan kosakata dan istilah bahasa Inggris yang bersangkutan dengan seksualitas. Saya taunya cuma bdsm, latinas, brazzer, naughty america, fake taxi, jav, bukkake, happy ending

Tapi mau bagaimana lagi ya, kata cement diserap ke dalam bahasa Indonesia ditetapkan menjadi semen, dan klub ini didirikan & didanai oleh pabrik semen, jadilah namanya demikan. Bisa saja nama klub diubah menjadi misalkan “Padang FC”, tapi mana mau direksi PT Semen Padang, kecuali jika perusahan sudah lepas tangan & tidak menjadi sponsor utama klub lagi.

Kabau Culun
Sejak punya badan hukum sendiri, Semen Padang FC merubah logo klub. Mungkin juga untuk lebih membedakannya dengan logo PT Semen Padang. Tapi sayangnya di logo yang baru si Kabau Sirah kelihatan culun, kurang garang & kayak mau nangis. Bentuk bolanya juga kurang oke

Chelsea dan Arsenal juga merombak logo mereka beberapa tahun yang lalu, hasilnya logo yang baru terlihat sangat solid & modern. Masalah desain dalam lingkungan olahraga lokal memang terkesan setengah-setengah, padahal banyak desainer dalam negeri yang portofolionya yang keren. Belum lama ini sempat hangat masalah maskot Asian Games yang jelek. Banyak yang protes hingga akhirnya dilakukan pengerjaan ulang dengan tim yang baru.

Terkadang rancangan-rancangan fans malah banyak yang terlihat lebih bagus, contohnya:

Stadion
Stadion H. Agus Salim yang selama ini digunakan oleh Semen Padang adalah salah satu yang terburuk. Dari mulai kondisi tribun, kelengkapan fasilitas, rumput dll. Di level nasional saja termasuk yang buruk, apalagi jika digunakan untuk pertandingan internasional, kadang bikin malu.

Banyak yang bilang, sebenarnya pihak manajemen SPFC sudah mempunyai rencana & anggaran untuk pembangunan stadion baru, namun terkendala dengan rumitnya pembebasan lahan. Di Minangkabau ini memang susah jika sudah berurusan dengan perkara tanah. Ada yang namanya tanah ulayat yang butuh berbagai perundingan adat untuk menyelesaikannya. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang ikut bermain di dalam membawa agenda kepentingannya masing-masing. Hal-hal seperti ini juga yang disinyalir minimnya minat investor di provinsi ini.

UPDATE (12 Maret 2017)

Logo Semen Padang FC tahun ini mengalami perubahan baru. Kerbaunya tak lagi culun seperti yang saya kritisi di atas

d8b79d2c8c31cda178ddd3569117e14f

sumber: indosport.com

Mungkin sebelumnya pihak manajemen baca blog ini hehehe…

Menolak Lupa

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat. Tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetap gagah? Saya kira tidak. Mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ada di baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggung jawab yang mereka akan bayar sampai titik manapun!

MUNIR SAID THALIB

Meski peringatan kematian Munir sudah berlalu 7 September yang lalu. Tapi semangat MENOLAK LUPA tidak mengenal tanggal, apalagi kasus kematian Munir ini masih belum selesai atau tepatnya dipaksa selesai, kasus dikunci di awang-awang.

7 September 2004, Munir diracun dan meninggal di atas pesawat saat dalam penerbangan menuju Belanda. Hanya kacut paling bawah dari pembunuhan berencana ini a.k.a Pollycarpus Budihari Priyantoyang dijerat hukum. Otak-otak utamanya masih sibuk ongkang-ongkang kaki di luar sana, santai menikmati pensiunan atau masih sibuk bersliweran dengan politik kotor mereka. Siapapun orang-orang itu pantas untuk dikirim sebagai sajian untuk disantap suku kanibal di Papua Nugini sana.

Semangat untuk menolak lupa & selalu meremajakan pikiran akan kasus perampasan HAM  atas seorang pejuang HAM yang tidak diselesaikan dengan keadilan hukum ini harus selalu dijaga, dan janganlah hanya jatuh pada simpati hampa tahunan dengan sebaris twit seperti “Mudah-mudahan ke depannya lebih bagus” saja.

Kartini? Yang Lebih Bagus Banyak

Setiap tanggal 21 April ada semacam pertanyaan “wajib” yang bermunculan. Kenapa harus Kartini? kenapa tidak yang lain?

Saya sarankan baca artikel di bawah ini. Mungkin ada yang langsung skeptis karena bawa-bawa nama Islam, tapi percayalah ini lebih kaya, berdasar & menambah ilmu.

blog iseng Ajah!

Menjelang hari kartini ada baiknya kita baca lagi tulisan dari DR. Adian Husaini ini setidaknya untuk memperluas cakrawala berfikir kita.

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah Atas Peran Islam

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

View original post 2,006 more words