Setiap Orang Punya Perjuangan Hidup Masing-masing

Setiap orang punya perjuangan hidup masing-masing. Suami-Istri ini saya temui dalam perjalanan darat Jogja – Bukittinggi yang melelahkan beberapa bulan yang lalu. Walaupun menumpang di bus yang sama, namun baru setelah 2 hari, ketika berhenti di Bangko, saya bisa bercakap-cakap dengan mereka. Kebetulan hanya kami bertiga, penumpang yang tersisa untuk yang ke Bukittinggi. Dipaksa menunggu setengah hari untuk ganti bus melanjutkan perjalanan. Beginilah nasib korban sistem transportasi massal negara yang busuk ini, mesti banyak bersabar. Waktu menunggu lebih banyak dihabiskan berbincang-bincang dengan mereka. Seperti biasanya, sudah tabiat mungkin, saya tidak begitu tertarik menceritakan hidup saya tapi selalu tertarik dengan kehidupan orang lain.

DSC02268b

Suami Istri ini juga naik di Jogja, usut punya usut alasan mereka datang & menetap di Jogja cukup menarik. Mereka sudah 6 tahun menikah tapi urung dikaruniai anak. Sebelumnya sehari-hari pasangan ini bekerja berdua di pasar Bukittinggi, sibuk berbisnis dadak, residu penggilingan padi. Berkeliling ke kampung-kampung dengan mobil pick-up mereka mengumpulkan dadak dari beberapa rice milling, kemudian dijual di pasar. Umumnya dadak banyak digunakan orang untuk makanan ternak.

Mungkin karena kesibukan tersebut, 6 tahun menikah belum dikaruniai anak juga. Lalu sekitar setahun yang lalu mereka berangkat ke Jogja atas saran dari teman si suami, untuk menenangkan diri, refreshing, ganti suasana & untuk fokus berusaha tanpa diganggu kesibukan harian.

Ternyata keajaiban datang di Jogja. Beberapa hari di sana, si istri akhirnya hamil. Pada saat perjalanan pulang itu, usia kehamilannya sudah 8 bulan. Rona wajah si suami sangat jelas menggambarkan rasa syukur ketika menceritakan hal ini. Keputusan meninggalkan pekerjaan & aktivitas di kampung benar-benar membuahkan hasil. Berangkat ke Jogja dengan modal 8 jutaan, tinggal di sana tanpa keluarga atau teman yang mengampu, tanpa ada jaminan hasil apa yang mereka dapatkan, pasrah kepada Tuhan.

Karunia Tuhan memang datang dengan jalan yang tak dapat diperkirakan. Tidak ada teori ilmiah yang mengatakan jika kehamilan bisa datang jika pindah kota. Tapi kerja keras, kesabaran & kepasrahan kepada Tuhan takkan mungkin menghianati. Attitude mereka menghadapi hal ini sangat inspirasional. Saya juga suka dengan kepribadian si istri; tidak glamor, sabar, tidak whinny, independen & menghormati suaminya. Sempat tersirat dalam hati jika nanti menikah, semoga punya istri dengan karakter seperti ini juga ^^’

Untuak Uda & Uni patang tu, mudah-mudahan bayi nyo lahia selamat dan sehat. Maaf wak caritoan saketek di siko, ndak baa doh kan? :mrgreen:

Advertisements

Konspirasi JF. Kennedy, Sukarno, Suharto, CIA dan Freeport

PENTING UNTUK DIBACA!

Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology • Science • Universe • • • • • • • • • • • •

kutitipkan bangsa negara kepadamu papua indonesia header

Bongkar Konspirasi Hebat:
Antara John F. Kennedy, Sukarno, Suharto dan Freeport

Bung Karno / Sukarno / Soekarno

Pada sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak  dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap kekayaan alam negeri tercinta, Indonesia.

suharto sukarno freeport banner

Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“.

Illuminati Card Game Agenda - Rewriting History Illuminati Card Game Agenda – Rewriting History

Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Pada kesempatan ini, kami akan menguak sedikit dari banyaknya tandatanya-tandatanya besar yang masih tersimpan…

View original post 4,204 more words

Goodbye Jogja

Thank you for all these 9 years. Shame I couldn’t make my exit in a proper way. Damn I couldn’t pack all the stuff that i supposed bring along. Damn my phone was error only a few hours after I departed. And damn for all other things that also make this unpleasant farewell feel more unpleasant.

Goodbye to a not really lovable city but surely a lovely society you have there, Jogja. Sorry for not appreciate enough & not showing much gratitude during my stay.

So long!

Menolak Lupa

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat. Tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetap gagah? Saya kira tidak. Mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ada di baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggung jawab yang mereka akan bayar sampai titik manapun!

MUNIR SAID THALIB

Meski peringatan kematian Munir sudah berlalu 7 September yang lalu. Tapi semangat MENOLAK LUPA tidak mengenal tanggal, apalagi kasus kematian Munir ini masih belum selesai atau tepatnya dipaksa selesai, kasus dikunci di awang-awang.

7 September 2004, Munir diracun dan meninggal di atas pesawat saat dalam penerbangan menuju Belanda. Hanya kacut paling bawah dari pembunuhan berencana ini a.k.a Pollycarpus Budihari Priyantoyang dijerat hukum. Otak-otak utamanya masih sibuk ongkang-ongkang kaki di luar sana, santai menikmati pensiunan atau masih sibuk bersliweran dengan politik kotor mereka. Siapapun orang-orang itu pantas untuk dikirim sebagai sajian untuk disantap suku kanibal di Papua Nugini sana.

Semangat untuk menolak lupa & selalu meremajakan pikiran akan kasus perampasan HAM  atas seorang pejuang HAM yang tidak diselesaikan dengan keadilan hukum ini harus selalu dijaga, dan janganlah hanya jatuh pada simpati hampa tahunan dengan sebaris twit seperti “Mudah-mudahan ke depannya lebih bagus” saja.

Hhhh…

Jika bisa diukur, hidup saya ini tidak kurang dari 50% isinya adalah kebohongan. Sisanya mungkin kemalasan. And for the rest of my life akan terbawa terus dan bergantung pada hal menyedihkan tersebut.

Untuk bisa disebut sebagai manusia yang punya otak lagi, kemalasan ini perlahan-lahan harus dihilangkan. Harusnya tidak perlahan-lahan tapi langsung secara total karena tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha, tapi apa yang bisa diharapakan dari seorang pengidap malas akut ini? Bisa menguranginya secara perlahan saja sudah jadi prestasi yang bagus.

Untuk kebohongan, well akan jadi kompleks. Demi kelangsungan hidup normal di mata sosio-kemasyarakatan, mau tak mau hal ini akan tetap melekat. Karena saya butuh walau tak mau. Demi mencari penghidupan, gengsi serta untuk menjaga pikiran agar tetap waras, walaupun pasti batin bakal tersisksa.

Hidup Susah Mati Tak Mau

Sudah hampir satu bulan momen buruk yang merubah peta hidup saya itu berlalu. Hidup susah matipun  tak mau, kata orang. Tak ada alasan logis untuk mendramatisir keadaan ini jauh lebih buruk, depresi ataupun melukai jasmani. Saya sudah cukup tidak tau diuntung. Tidak ada hak untuk berlarut-larut memupuk kegalauan, hanya akan menambah penderitan orang tua saja.

Sebagaimana lazimnya orang gagal, yang dicoba adalah mencari alternatif jalan hidup yang lain. Sebelum Idul Fitri kemarin dapat kesempatan menemani Om, bantu-bantu berdagang. Kondisinya lumayan enak, jauh lebih enak daripada pedagang musiman lainnya di lokasi yang sama. Tidak susah, tetapi tidak juga saya menikmatinya, saya tidak punya jiwa dagang. Kadang saya meragukan diri sendiri, apa benar saya ini orang Minang? Tidak bisa dagang, tidak jago masak, tidak suka maota, tidak bisa main koa, dll. Hampir semua spesialisasi orang Minang tidak saya kuasai.

Sekarang di rumah mencoba menyusun lagi peta hidup yang berantakan, mereka-reka apa yang akan dilanjutkan selanjutnya. Akankah nanti membuahkan hasil atau tidak, saya tidak tahu.