Selonong Boi

Jika diperhatikan dengan seksama sinetron-sinetron Indonesia, ada satu hal yang acap kali mengusik seonggok daging dalam tengkorak saya. Rasanya hampir tidak pernah melihat adegan orang melepas alas kakinya ketika memasuki rumah. Asik selonong boi saja. Baik itu dengan setting cerita di rumah orang kaya yang mewah, maupun di rumah yang sedehana.

Okelah sinetron memang bukan acuan yang ideal untuk gambaran kehidupan masyarakat. Bagaimana dengan film? Film-film Indonesia sekarang makin marak dan kualiatasnya mulai membaik, tetapi nyatanya tidak jauh beda. Hal serupa juga dipertontonkan, di film “Emak Ingin Naik Haji” Reza Rahardian santai saja ber-sandal ria di rumahnya yang kecil & sederhana, sandal yang sama yang dipakainya di adegan-adaegan lain di luar rumah.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apa mungkin adab membuka alas kaki memasuki rumah ini hanya ada pada budaya daerah lokal saya saja? Apakah di daerah-daerah lain di Indonesia berbeda? Apakah di Jakarta (tempat mayoritas sinetron & film dibuat) tidak berlaku adab sepert ini?

Namun berdasarkan pengalaman, saya pernah masuk rumah-rumah orang di Bukittingi, Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo dll, tidak pernah sekalipun saya temui/disuruh/dipersilahkan masuk rumah dengan tetap menggunakan alas kaki.

Iya memang tak sedikit juga yang pakai sandal di dalam rumah, tapi biasanya itu memang disiapkan khusus untuk di rumah saja, bukan alas kaki yang sama yang dipakai dari luar, seperti kebiasaan orang di Jepang, Korea, dll. Atau dengan kondisi tertentu, ibu saya juga menggunakan sandal dalam rumah karena tidak tahan dengan dinginnya lantai keramik. Banyak orang-orang tua lain juga demikian.

Ini memang remeh temeh, tapi detil-detil kecil semacam ini jitu menunjukkan kultur kita kepada orang lain. Di film, drama dan acara TV Jepang dan Korea, hal ini sering kali dikasih lihat, yang membuat iri bagaimana mereka sebegitu rapi dan tertata. Sebagai media yang terbukti ampuh mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup sehari-hari, alangkah kerennya jika sinetron, film dan acara-acara TV di Indonesia juga mempertontonkan remeh temeh kultur yang mendidik seperti ini.

Pemandangan yang cukup membahagiakan ketika beberapa waktu yang lalu mengunjungi adik bungsu saya yang kini mondok di pesantren, waktu shalat di masjid alas kaki para santri tersusun rapi dengan ujungnya yang seragam mengarah keluar. Walaupun tidak serapi & se-njelimet orang-orang Jepang, tapi sudah lumayan bagus.

Remeh temeh yang baik untuk dibiasakan, disebarluasakan & lebih sering dipertontonkan di layar kaca.

Mie Instan Indonesia di Komik Jepang

Berikut penampakan mie instan lokal di sebuah komik Jepang yang dirangkum oleh om Iwan Palsu 😀 . Baca komik Jepang itu dari kanan ke kiri.

1) “(Negara di mana mie instan goreng menjadi makanan nasional adalah) Indonesia dan Filipina!” | “Wah”

1

2) “Sebenarnya Indonesia sendiri sudah punya budaya ‘Yakisoba (bahasa Jepang)’ yg disebut ‘mie goreng'”

2

3) “Saya juga tahu, itu ‘nasi goreng’ versi mie kan?” | “Ya, setelah itu mie instan masuk ke Indonesia”

3

4) “Lalu, ahirnya lahir juga ‘mie instan goreng’ (di Indonesia)”

4

5) “Bukannya mie instan goreng pakai wadah (kotak) plastik?” | “Bukan, akhir-akhir ini merk mie instan Jepang juga mulai masuk ke Indonesia”

5

6) “Tapi, yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia tentu saja mie instan lokal pakai bungkusan plastik”

*mie instan goreng di Jepang biasanya dimasukkan ke dalam wadah plastik berbentuk kotak/cup, bukan bungkusan plastik seperti di Indonesia

6

7) “Saat ini Indonesia sudah menjadi negara besar mie instan yang melebihi Jepang dan Korea Selatan, terutama…”

7

8) “Terutama produk Indomie, merk nomor 1 di Indonesia, bisa dibilang ‘mie instan terlaris di dunia’ | “Hebat ya”

8

9) “Karena ‘mie goreng’ sendiri, kalau dalam bahasa Jepang artinya seperti ‘Yakisoba’, jadi…”

9

10) “Mie goreng Indomie itu seperti ‘Sapporo Ichiban (merk mie instan)’ di Jepang” | “Selain rasa normal, ada juga banyak rasa lain seperti ‘rasa pedas’, ‘rasa sate’ dan ‘rasa rendang’ “

10

11) “Produk-produk mie instan itu berlogo halal, tandanya memenuhi aturan agama Islam” | “Jauh berbeda dgn Jepang ya…”

11

12) “Indonesia dan Filipina memang layak disebut sebagai negara besar mie instan, lalu rasa mie instan gorengnya juga…”

12

13) “Aku rasa (rasa mie instan goreng di Indonesia) dapat diterima oleh semua orang” | “Wow!”

13

14) “Mie instan goreng dari Indomie, merek terbesar di Indonesia, rasanya tidak terlalu berat tapi juga gurih, pokoknya enak semua”

14

15) “Terus, lebih enak kalau pakai bumbu bawang goreng” | “Kelihatannya enak ya…”

15

16) “Aku suka ‘rasa sate’ seperti ‘Peyoung (salah satu merk mie instan goreng terpopuler di Jepang)’ versi Indonesia”

16

17) “Ngomong-ngomong, rasa ayam bawang dari Mie Sedaap, merk saingan Indomie, agak mirip dengan “Ore no Shio (merk mie instan Jepang)”

17

18) “Tapi sayangnya rasa ini entah kenapa garamnya dipakai 3 kali lipat dari produk Jepang, makanya sering haus saat makan…”

18

Pemandangan Lazim di Tempat Umum

IMG_9641 IMG_9642 IMG_9643 IMG_9644 IMG_9645 IMG_9646 IMG_9647 IMG_9648

Foto – foto di atas diambil di kawasan 0 Km, Jogja beberapa minggu yang lalu. Pemandangan yang lazim di tempat-tempat umum di Indonesia terutama areal terbuka, yang sangat disayangkan kenapa hal-hal jelek seperti ini dianggap biasa-biasa saja, lumrah. Itu baru radius 5m di sekitar saya, belum lagi di tempat lainnya. Jika kebersihan itu sebagian dari iman, maka dapat dipastikan masyarakat kita imannya hanya setengah. Penyediaan tempat dan pengelolaan sampah oleh pemerintah memang masih belum oke, tapi kalau terus-terusan menjadikan pemerintah sebagai alibi, kapan bersihnya? Kesadaran itu yang kurang.

Kesadaran kebersihan yang konon katanya berbanding lurus dengan kesejahteraan juga cuma mitos. Yang nyampah di tempat-tempat umum bukannya hanya orang-orang menengah ke bawah. Kelas menengah ke atas, konsumen makanan cepat saji brand populer banyak yang bikin jengkel juga, sampahnya di tinggal dimana-mana, berasumsi tukang sapu jalan menyelesaikan masalah kebersihan mereka, padahal tukang sapu jalan juga kerjanya 1 kali sehari tiap pagi dan itupun paling cuma yang bagian jalannya saja, maka semena-menalah sampah mereka tersebut, merusak kenyamanan.

Sedih rasanya kalau lihat gambar-gambar daerah di Jepang yang bersih minta ampun, kontras sekali sama yang di sini. Beralasan, mereka sadar akan kebersihan. Jangankan di negara sendiri, di negara orang lain aja mereka mempraktekannya. Masih ingatkan ini;

Dulu juga sempat lihat komunitas yang berisikan orang-orang Jepang yang bawa karung bersih-bersih tiap minggu di Jakarta, sukarela.

Sebagian beranggapan muluk-muluk mungkin membandingkan Indonesia dengan Jepang. Tapi dengan Malaysia bagaimana? Malaysia jauh lebih bersih dari Indonesia. Coba tanya orang Indonesia mana yang suka kalah sama Malaysia. Kalah di pertandingan sepakbola aja bisa ngamuk-ngamuk, bus tim lawan habis dilempari. Kalau kalah dari segi kebersihan? kebanyakan sih pura-pura nggak tahu.

Post ini memang bermaksud menggurui, menggurui saya sendiri dan teman-teman lainnya. Berharap bisa terkenang jika ada niatan nyampah sembarangan. Buang sampah di tempatnya, kalau nggak ada tempat sampah di sekitar, simpan dulu.

1st Postcard

Awalnya gak mau bikin post ini karena terkesan norak 😆 & memang norak sih hehehe. Tapi kemaren waktu blogwalking ada yang bahas postcrossing dan dia juga newbie, jadi berasa ada teman sesama newbie :mrgreen:

Jadi beberepa waktu yang lalu saya iseng gabung di Postcrossing, karena ikut-ikutan orang 😛 . “Asiik juga nih” pikir saya waktu itu. Lalu bikin akun di sana. Pertamanya dikasih 5 slot buat ngirim postcard ke luar. Karena masih coba-coba, saya kirim 3 aja dulu yaitu ke Jerman, Belanda & Rusia. Dipikir-pikir hobi ini nguras duit juga ya haha 😀 , apalagi buat orang pelit kayak saya ini :mrgreen: , ya cuma puluhan ribu sih tapi ya…

Alhamdulillah ketiga postcard yang saya kirim sampai semua ke tujuan, yang paling lama itu yang ke Rusia. Jadi sisanya ada 2 slot pengiriman lagi, tapi saya males ngirim. Begitu sih kalo hobi cuma hangat-hangat tai ayam :mrgreen: hehehe.. Lalu kemarin pagi anak bapak kos tiba-tiba mengetuk pintu saya, “wah ada apa gerangan?” pikir saya dalam hati. Ternyata dia mebawa secarik kartu pos, belum sempat memegangnya saya sudah yakin itu kartu pos hasil postcrossing, yeaaaahhhh… kartu pos pertama yang saya terima woohooo 😎 (sorry lebaaay :mrgreen: )

Dapat kartu pos dari Hamburg, Jerman. Danke Schon !!

Lalu seketika hasrat untuk ngirim muncul lagi. Mudah-mudahan kali ini gak cuma hangat-hangat tai ayam, minimal meningkat jadi hangat-hangat tai sapi lah :mrgreen:

Ada beberapa hal yang saya baru tahu setelah ikutan ini. Ternyata nyari kartu pos yang bagus itu susah juga. Di kantor pos, kebanyakan kartu pos nya ada embel-embel sponsor atau event. Di Gramedia variannya cuma itu-itu aja. Selain itu palingan cuma ada di toko-toko buku atau souvenir dan sama aja gak banyak variannya.

Ternyata yang kedua; kartu pos itu bisa dibikin sendiri, dicetak sendiri gitu. Soalnya dari semua kartu pos yang pernah saya lihat, ada alamat email pribadi yang bikin. Sebelumnya saya pikir kartu pos itu hanya boleh diterbitkan oleh instansi resmi Kantor Pos Indonesia, ternyata nggak ya 😮

Lagu Adhitia Sofyan Jadi Jingle Iklan di Korea

Tau kan Adhitia Sofyan? Penyanyi Indie yang banyak menggratiskan lagu-lagu ciptaannya yang didapat diunduh lewat blog pribadinya. Akustik lembut yang menenangkan menjadi ciri khasnya. Lagu-lagunya sangat cocok untuk menemani suasana sendiri, pengantar tidur, sambil baca, minum kopi ataupun kala melamun saat melihat hujan turun.

Sekarang ini beliau tambah terkenal aja, gak cuma dikalangan penikmat musik indie lokal, tapi juga internasional. Dulu pernah lihat kabar profilnya yang dimuat majalah luar, video lagu-lagunya yang di cover orang luar, diundang manggung di Jepang, sign kontrak dengan indie label  & bahkan sekarang  rilis album fisik di Jepang. WOW 😯

penampakan CD Adhitia Sofyan di Tower Records, Jepang

Kabar terakhir yang beredar di lini masa saya beberapa hari yang lalu, lagu beliau yang berjudul “Gaze”, dipakai sebagai jingle di sebuah iklan kopi di Korea

Wih keren ya. Sebelumnya sudah ada Mocca yang juga sering dipakai lagu-lagunya untuk iklan, OST film ataupun sekedar BGM variety show disana. Mudah-mudahan tambah sukses ke depan buat Adhitia Sofyan, Mocca dan artis-artis Indie lainnya.

Adhitia Sofyan:

Blog: http://adhitiasofyan.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/adhitiasofyan

Youtube: http://www.youtube.com/user/AdhitiaSofyan

Soundcloud: https://soundcloud.com/adhitiasofyan

Papan Pergantian Pemain

Salah satu yang mengganggu pemandangan & batin saya kalau menonton pertandingan bola di Indonesia adalah papan pergantian pemain. Papan yang diangakat offisial pertandingan saat ada pemain yang akan diganti yang menunjukkan angka nomor punggung pemain yang keluar & masuk. Sekarang sudah tahun 2013 boi, tapi model papan yang digunakan masih oldschool abis :|, kayak gini:

368623806_078Kalau untuk pertandingan domestik, okelah. Kompetisinya aja kacau balau. Tapi untuk pertandingan internasional yang bagusan dikitlah. Di Eropa, papan pergantian digital sudah dipakai sejak akhir 90an/awal 2000an. Dan ini sudah lebih dari 10 tahun berlalu…

Aston Villa v Chelsea - FA Cup Semi FinalSaya gak tau pasti siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Apakah pengelola stadion, panitia pertandingan, Badan Liga atau PSSI. Asumsi saya, ini merupakan tugas dari pengelola stadion. Karena ini termasuk kelengkapan stadion, sama seperti gawang, tiang pojok lapangan, tribun, garis lapangan dll. Tapi siapapun, masa’ gak bisa beli barang beginian. Harga untuk model yang tercanggihnya gak sampai 8 juta. Keuntungan dari gelaran sebuah pertandingan itu besar lho, ratusan juta hingga miliyaran. Masa’ cuma buat beli ini aja kaga bisa. Atau kalau mau hemat (banget) kerjasama saja dengan salah satu fakultas teknik yang ada di negara ini pasti mahasiswanya juga pada semangat.

Tapi itulah Indonesia, duitnya pasti lebih banyak masuk kantong pribadi. Jangankan buat hal kecil seperti ini, tanah & rumput lapangan aja gak dirawat. Kalau hujan berubah jadi sawah, drainasenya jelek. Ingat kan pertandingan kualifikasi AFC Cup U-19 Indonesia Vs Korea kemarin, apa gak malu tuh?

Gini nih ktanya yang mau jadi tuan rumah Piala Dunia beberapa tahun kemaren, jadi tuan rumah ajang Asia aja belum pantas 👿

Makan Pakai Tangan Tidak Beradab?

Ya iyalah makan pakai tangan, masa’ pakai kaki :???:. Ya maksudnya tanpa alat makan gitu, sendok dan garpu.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya terlibat sebuah unnecessary debate di youtube. Tepatnya di video ini :

salah satu video dari web series “How to act Indonesian” bikinan Sacha Stevenson , cewek bule asal Kanada yang sudah ter-Indonesia-isasi :grin:. Dulu sering tampil bareng Komeng & Adul di Wara Wiri, Trans 7.

Masalahnya sih sepele sebenarnya tapi malah jadi adu kata-kata yang cukup panjang hehehe :mrgreen:.

Jadi ini dimulai dari komentar dari username Xeva Vexa, mengenai adegan si Sacha yang makan pakai tangan:

Xeva Vexa:

Eating with hand is not hit anymore since we follow Bule at colonialism era when we saw them eating with spoon so it’s like cool eating with spoon and we eating with spoon since then maybe since about 1893. Lol.

Lalu saya balas (menggunakan username Gendai Speaker)

gendai speaker:

Siapa bilang!? Eating with hand still the best way to enjoy the meal….. for me :D, nggak nikmat cuy makan nasi padang pake sendok

Dan dapat tanggapan dari username eriquerique

eriquerique:

Ya tergantung makanannya sih. Kalo makan steak ya susah dong pake tangan ya. Anyway menurut saya sih, peradaban sudah memperkenalkan kita dengan alat2, termasuk alat2 makan. Jadi nggak masalah mau nikmat atau tidak, sebagai orang beradab ya makanlah dengan alat. Berak di kali juga nikmat mas/mbak. Tapi belum tentu lebih beradab dan higienis daripada berak di WC kan?

Dan kamipun saling balas-balasan (aduuuhh, knapa jadi so sweet begini :lol:)

gendai speaker:

ya tergantung makanannya. Tapi frekuensi saya makan steak dlm setahun bisa dihitung dg jari, lebih sering makan nasi padang. Jadi makan pk tangan gk beradab gitu? justru dikampung saya, terutama saat hajatan (secara adat), makan dengan tangan jauh lebih beradab dibanding makan dg alat. “Lain padang, lain ilalang. Lain lubuk, lain ikannya”. Klo masalah higienis, sebelum makan kan cuci tangan dulu.

eriquerique:

Kalau memang secara adat itu dijelaskan filosofinya mengapa makan harus pakai tangan, dan penjelasannya masuk di akal, saya akan convinced deh. Selama saya belum mendapat penjelasan mengapa makan (nasi) dengan tangan itu ‘beradab’, saya ya cuma bisa berasumsi bahwa kebudayaan tersebut memang terlambat mengetahui tentang keberadaan sendok garpu pada saat diperkenalkan oleh orang2 Eropa, sehingga sekarang entah malu atau pride-nya terlalu tinggi untuk mau mengakui bahwa sendok garpu lebih efisien.

gendai speaker:

Tentu ada filosofinya, klo dipaparkan di sini bkal terlalu panjang. Googling sendiri atau cara terbaik adlh mengalami/merasaknnya, coba deh jalan ke kampung2 di sumatera. Lagian norma adat itu sifatnya kan non tertulis, tata cara duduk yg baik di depan org yg lebih tua aja byk macamnya. Kembali ke awal, saya tetap gak setuju klo makan pk tangan itu dianggap gak beradab, klo di negara2 western mungkin iya, tapi klo di tempat lain blm tentu. Karena beda tempat, beda adab nya.

eriquerique:

Karena restriksi jumlah karakter disini, saya sudah mengirim private message buat mas/mbak gendai speaker. Silakan, kalau tertarik meneruskan pembicaraan ini, silakan dilihat ya. Thanks…

Ya begitulah, berlanjut ke PM, karena keterbatasan jumlah karakter di kolom komentar

eriquerique:

Memang benar, beda tempat beda adab. Itu sebuah perspektif yang valid, harus saya akui itu. Namun kalau saya boleh menawarkan perspektif lain…menurut saya di zaman globalisasi ini, dimana boleh dibilang tidak ada yang bisa menghentikan umat manusia di seluruh penghujung dunia untuk berkomunikasi, tentunya perilaku seperti berhenti pada “adab” sendiri itu kurang konstruktif terhadap kemajuan umat manusia secara keseluruhan.

Sebagai manusia kan kita harusnya melengkapi satu sama lain, seperti misalnya, penemuan listrik oleh Edison, Volta & Franklin membantu menaikkan taraf hidup manusia seluruh dunia, bukan saja di Amerika atau di Italia.

Jadi, alangkah baiknya jika pikiran dan filosofi kita tidak tersegmentasi terhadap negara A atau negara B, dalam artian, kemajuan manusia dari negara A bukan saja merupakan kemajuan negara A, tapi kemajuan seluruh umat manusia secara keseluruhan tanpa batasan negara.

Begitu pula dengan sendok garpu. Jangan terlalu dikaitkan dengan adab dan kebudayaan, bahwasanya sendok garpu itu biar bagaimanapun merupakan alat yang LEBIH efisien untuk makan. Jadi, mengapa kita tidak mengadopsinya? Apa karena cuma kita mau berpegang teguh dengan adat dan kebudayaan yang sudah semakin tidak relevan?

Zaman sekarang ini, peradaban itu sifatnya semakin universal. Artinya, manusia sudah mulai berusaha menghilangkan batas2 negara dan kebudayaan, menuju kearah manusia global yang tidak lagi didefinisikan sebagai orang Indonesia atau orang Amerika dsb. Kita adalah warga dunia. Dan peradaban kita yang dulunya majemuk dan tidak ter-standarisasi, lama-kelamaan menjadi satu dan standar. Sedih memang, karena seakan2 kita kehilangan ‘identitas’, namun hal ini tidak dapat terelakkan!

Jadi, menurut saya, “beda tempat beda adab” itu sudah kurang relevan lagi, SETIDAK-TIDAKNYA menurut sudut pandang ilmiah. Umpamanya, seperti orang Indonesia yang masih percaya “masuk angin”. Lha masuk angin itu sebenarnya apa sih? Tidak ada ilmuwan yang bisa membuktikan bahwa kalau kita hujan2an nggak pakai baju, sorenya masuk angin. Yang ada juga pneumonia, influenza, demam. Dan sembuhnya dengan obat, dengan parasetamol, bukan dengan kerokan atau minum tolak angin dsb!

Sampai kapan kita akan terus bersikeras bahwa masuk angin adalah fenomena yang riil? Sampai kapan kita akan terus tidak mengindahkan kata2 dunia bahwa sendok garpu adalah alat makan yang superior? Sampai kapan kita akan terus keras kepala? Itulah pertanyaannya.

Sebagai contoh saja, di Thailand. Dahulu, mereka juga makan dengan tangan. Tapi sejak modernisasi yang dilakukan oleh Raja Rama IV, masyarakat mulai mengenal dan beralih kepada sendok garpu. Sekarang ini…kalau mas/mbak pernah berkunjung ke Thailand, dari Bangkok sampai ke desa2 kecil…semua pakai sendok garpu. Coba2 makan pakai tangan? Dijamin anda akan dipelototi orang2 seruangan.

Ini Thailand lho mas/mbak, yang kemajuannya tidak jauh beda dari Indonesia. Bukan Denmark, bukan Norwegia atau negara2 super progresif lainnya.

Saya sadar, kita tidak perlu selalu mencontoh kebudayaan orang lain, tapi fakta bahwa orang2 di luar Indonesia sudah mengakui kelebihan sendok garpu dibanding tangan itu sebaiknya menjadi ‘alarm’ buat kita. Apakah kita terlalu kolot dan tidak fleksibel? Atau apakah kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa cara hidup orang luar / orang lain itu lebih efektif dibanding kita, sedangkan kita terus bersembunyi di balik kedok ‘kebudayaan’?

Nickname anda sendiri “Gendai speaker”. Yang saya asumsi diambil dari bahasa Jepang 現代 yang artinya “masa kini”. Perhaps you should try to act upon your nickname and consider my perspective to be valid? Hehehe.

Ini cuma opini lho ya mas/mbak, bukan bertujuan menguliahi. Kalau ada rebuttal, saya terima dengan senang hati dan lapang dada.

Salam,

Eriquerique

gendai speaker:

Hahaha.. jadi panjang gini ya. gak etis rasanya klo gak saya balas

Well said, tapi ttp gak sepenuhnya saya setuju.
Mau makan pakai garpu sendok atau tangan kosong, sebenarnya terserah sih, tergantung pribadinya masing2. Saya pun klo makan mie juga pakai garpu, masa’ ya pake tangan.
tapi ya klo makan nasi ya saya lebih suka pake tangan, lebih nikmat aja gitu (ngambil lauk+pauk nya ya pake sendok juga). Dan tentu tergantung situasi & kondisi.

Dari awal pun saya nulisnya “Eating with hand still the best way to enjoy the meal….. for me”. Jadi ya cuma masalh preferensi masing-masing saja. Tapi yang saya kurang setuju itu adalah balasan dari anda –> “Jadi nggak masalah mau nikmat atau tidak, sebagai orang beradab ya makanlah dengan alat” (jadi makan pakai tangan nggak beradab gitu?)

Di situlah letak masalah diskusi kita ini. Tapi dari jawaban anda yg di atas kok jadi ironi ya, terutama di paragraf2 awal. Anda yg mulai ngomongin masalah Adab, lalu di jawaban ini terkesan mengenyampingkannya.

Indonesia sudah banyak kok mengadopsi budaya barat termasuk saya, di segala hal. termasuk sendok & garpu ini. Orang kampung ya gak kolot2 amat mas & nggak antipati juga sama budaya barat. Kakek saya aja dari dulu ya sudah western banget gayanya Tiap sore dengan sepatu kulit, jam tangan Swiss klasik & topi ala cowboy, udah keliling-keliling dengan motor tua nya.

Oke, balik lagi. Kenapa saya gak setuju klo “makan pakai tangan itu gak beradab”? Sebelumnya saya contohkan makan waktu hajatan. Mungkin karena kurang spesifik jadi anda nggak nangkap pointnya. Jadi akan saya jabarkan. Makan-makan di hajatan kawinan, pesta perkawinan itu kan erat kaitannya dengan adat/budaya. Saya ambil contoh, resepsi pernikahan di kampung saya, Bukittinggi (Minangkabau). Di sana ada istilahnya “Makan Bajamba”, tamu yang datang akan makan bersama di sebuah piring besar (sekitar 3-4 orang/per piring) dan pakai tangan. Yang makan pakai sendok & garpu itu biasanya buat anak2 kecil yang belum terbiasa, atau di anggap mengganggu. Orang dewasa yg makan sendiri pakai sendok & garpu, paling ya disindir, diketawain atau minimal dipelototin lah (meminjam kata2 anda di atas).

Sementara itu waktu saya diundang makan-makan biasa di rumah teman, mereka sekeluarga ya kebiasaannya kalo makan di rumah ya pakai sendok dan garpu. Tentu saya juga ikut makan pakai sendok & garpu. Gak etis banget lah klo makan pakai tangan sendiri. Malu juga kali.

So, “beda tempat beda adab” masih relevan kan? atau mungkin lebih panjangnya “beda tempat, beda situasi, beda kondisi, beda adab”

Klo berobat mah yg penting sembuh. Klo gak mempan dengan obat tradisional, coba ke dokter. Atau sebaliknya.

Jepang, Korea & China jauh lebih maju dibanding Thailand, Denmark & Norwegia. Tapi kenapa mayoritas masih mempertahankan cara makan tradisionil mereka dengan sumpit. Padahal mereka dulunya juga diperkenalkan dengan Sendok & Garpu oleh orang2 Eropa. Apa mereka juga kolot & nggak fleksibel? Atau apakah mereka terlalu sombong untuk mengakui bahwa cara hidup orang barat lebih efektif & bersembunyi di balik kedok ‘kebudayaan’?
Rasanya nggak ya 😀

Hmm… sedikit out of topic. Di atas anda sering menggunakan kata EFESIEN. Kok rasanya pemakaiannya di sini kurang pas ya. Efesien artinya melakukan sesuatu dengan menggunakan sesedikit mungkin sumber daya (wiktionary). Jadi kalau dikaitkan dengan topik diskusi kita ini, justru malah makan dengan tangan kosong lebih efesien drpada sendok & garpu, bukan sebaliknya.

Sekian, silahkan untuk tidak setuju

========
Username saya, random aja sih sebenarnnya. Itu diambil dari sebuah judul lagu dari band rock Jepang. ONE OK ROCK – Mr. Gendai Speaker http://www.youtube.com/watch?v=gO7QweXyB8U

Username anda “eriquerique”, apa ada relasi dengan Afonso de Albuquerque ? 😀 mungkin karena ini pandangan kita begitu berbeda hehehe…

Dan Alhamdulillah gak dibalas lagi :razz:. Mungkin dia bisa menerima argumen saya atau karena malas aja memperpanjang debat gak penting ini. Say juga udah males :mrgreen:

Well bagi yang kebetulan baca post ini, bagaimana menurut anda? Which side are you on?