Semen

Sayang sekali Semen Padang gagal juara Piala Jenderal Sudirman yang kemarin. Padahal secara permainan mereka jauh lebih unggul dibanding Mitra Kukar. Tapi sejak Yu Hyunkoo diganjar kartu merah, permainan berubah dan akhirnya takluk 1-2. Selamat buat Mitra Kukar.

Walaupun saya orang Bukittinggi bukan orang Padang tapi tetap dukung Semen Padang. Wajar, seperti orang Garut dukung Persib, orang Kendal ngedukung PSIS, orang Lahat dukung Sriwijaya dll. Toh orang yang dari daerah lain yang cukup jauh pun tidak dilarang dukung tim daerah lainnya, bebas! Apalagi sejak PSP Padang entah dimana keberadaanya sekarang, satu-satunya klub harapan orang Minang tinggal Semen Padang.

Saya punya sedikit unek-unek tentang klub ini. Relatif tidak begitu penting sih hehehehe ^^’

Unfortunate Name
Berapa tahun yang lalu ketika Semen Padang ikut dalam AFC Cup, saat itu mereka bertanding away melawan klub Singapura. Pertandingan tersebut tidak disiarkan oleh stasiun TV lokal, begitulah kenyataan nasib klub luar Jawa yang jarang diliput karena dianggap tidak membawa rating tinggi. Saya terpaksa ‘menonton’ lewat lini masa Twitter saja waktu itu. Lalu ketemu satu twit yang cukup bikin panas kepala, karena gaya bahasanya yang mengolok-olok.

Sempat saya respon & cari tahu apa maksud si Josh ini & danggggg…. 😮

Serasa langsung kena skakmat di tempat. Maafkan saya waktu itu masih lugu & polos (sekarang pun masih). Juga tidak familiar dengan kosakata dan istilah bahasa Inggris yang bersangkutan dengan seksualitas. Saya taunya cuma bdsm, latinas, brazzer, naughty america, fake taxi, jav, bukkake, happy ending

Tapi mau bagaimana lagi ya, kata cement diserap ke dalam bahasa Indonesia ditetapkan menjadi semen, dan klub ini didirikan & didanai oleh pabrik semen, jadilah namanya demikan. Bisa saja nama klub diubah menjadi misalkan “Padang FC”, tapi mana mau direksi PT Semen Padang, kecuali jika perusahan sudah lepas tangan & tidak menjadi sponsor utama klub lagi.

Kabau Culun
Sejak punya badan hukum sendiri, Semen Padang FC merubah logo klub. Mungkin juga untuk lebih membedakannya dengan logo PT Semen Padang. Tapi sayangnya di logo yang baru si Kabau Sirah kelihatan culun, kurang garang & kayak mau nangis. Bentuk bolanya juga kurang oke

Chelsea dan Arsenal juga merombak logo mereka beberapa tahun yang lalu, hasilnya logo yang baru terlihat sangat solid & modern. Masalah desain dalam lingkungan olahraga lokal memang terkesan setengah-setengah, padahal banyak desainer dalam negeri yang portofolionya yang keren. Belum lama ini sempat hangat masalah maskot Asian Games yang jelek. Banyak yang protes hingga akhirnya dilakukan pengerjaan ulang dengan tim yang baru.

Terkadang rancangan-rancangan fans malah banyak yang terlihat lebih bagus, contohnya:

Stadion
Stadion H. Agus Salim yang selama ini digunakan oleh Semen Padang adalah salah satu yang terburuk. Dari mulai kondisi tribun, kelengkapan fasilitas, rumput dll. Di level nasional saja termasuk yang buruk, apalagi jika digunakan untuk pertandingan internasional, kadang bikin malu.

Banyak yang bilang, sebenarnya pihak manajemen SPFC sudah mempunyai rencana & anggaran untuk pembangunan stadion baru, namun terkendala dengan rumitnya pembebasan lahan. Di Minangkabau ini memang susah jika sudah berurusan dengan perkara tanah. Ada yang namanya tanah ulayat yang butuh berbagai perundingan adat untuk menyelesaikannya. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang ikut bermain di dalam membawa agenda kepentingannya masing-masing. Hal-hal seperti ini juga yang disinyalir minimnya minat investor di provinsi ini.

UPDATE (12 Maret 2017)

Logo Semen Padang FC tahun ini mengalami perubahan baru. Kerbaunya tak lagi culun seperti yang saya kritisi di atas

d8b79d2c8c31cda178ddd3569117e14f

sumber: indosport.com

Mungkin sebelumnya pihak manajemen baca blog ini hehehe…