Selonong Boi

Jika diperhatikan dengan seksama sinetron-sinetron Indonesia, ada satu hal yang acap kali mengusik seonggok daging dalam tengkorak saya. Rasanya hampir tidak pernah melihat adegan orang melepas alas kakinya ketika memasuki rumah. Asik selonong boi saja. Baik itu dengan setting cerita di rumah orang kaya yang mewah, maupun di rumah yang sedehana.

Okelah sinetron memang bukan acuan yang ideal untuk gambaran kehidupan masyarakat. Bagaimana dengan film? Film-film Indonesia sekarang makin marak dan kualiatasnya mulai membaik, tetapi nyatanya tidak jauh beda. Hal serupa juga dipertontonkan, di film “Emak Ingin Naik Haji” Reza Rahardian santai saja ber-sandal ria di rumahnya yang kecil & sederhana, sandal yang sama yang dipakainya di adegan-adaegan lain di luar rumah.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apa mungkin adab membuka alas kaki memasuki rumah ini hanya ada pada budaya daerah lokal saya saja? Apakah di daerah-daerah lain di Indonesia berbeda? Apakah di Jakarta (tempat mayoritas sinetron & film dibuat) tidak berlaku adab sepert ini?

Namun berdasarkan pengalaman, saya pernah masuk rumah-rumah orang di Bukittingi, Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo dll, tidak pernah sekalipun saya temui/disuruh/dipersilahkan masuk rumah dengan tetap menggunakan alas kaki.

Iya memang tak sedikit juga yang pakai sandal di dalam rumah, tapi biasanya itu memang disiapkan khusus untuk di rumah saja, bukan alas kaki yang sama yang dipakai dari luar, seperti kebiasaan orang di Jepang, Korea, dll. Atau dengan kondisi tertentu, ibu saya juga menggunakan sandal dalam rumah karena tidak tahan dengan dinginnya lantai keramik. Banyak orang-orang tua lain juga demikian.

Ini memang remeh temeh, tapi detil-detil kecil semacam ini jitu menunjukkan kultur kita kepada orang lain. Di film, drama dan acara TV Jepang dan Korea, hal ini sering kali dikasih lihat, yang membuat iri bagaimana mereka sebegitu rapi dan tertata. Sebagai media yang terbukti ampuh mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup sehari-hari, alangkah kerennya jika sinetron, film dan acara-acara TV di Indonesia juga mempertontonkan remeh temeh kultur yang mendidik seperti ini.

Pemandangan yang cukup membahagiakan ketika beberapa waktu yang lalu mengunjungi adik bungsu saya yang kini mondok di pesantren, waktu shalat di masjid alas kaki para santri tersusun rapi dengan ujungnya yang seragam mengarah keluar. Walaupun tidak serapi & se-njelimet orang-orang Jepang, tapi sudah lumayan bagus.

Remeh temeh yang baik untuk dibiasakan, disebarluasakan & lebih sering dipertontonkan di layar kaca.

Messi (2012) : Bukunya Tak Seelegan Orangnya

Tadinya ingin buat ulasan ini setelah final Copa Centenario biar momennya pas, tapi kenyataanya Argentina gagal lagi di final, dan buruknya Messi juga merupakan salah satu faktor kegagalan  mereka selain Lucas Biglia. Messi seakan dikutuk dengan ketidakberuntungan di tim nasional. Katanya ini sudah yang final keempat dia gagal membawa Argentina juara. Sebelumnya ada final Piala Dunia kalah dengan Jerman, final Copa America yang sebelum ini juga kalah dengan Chile dan satu lagi kalau tidak salah juga final Copa America keok lawan Brazil.  Padahal sebenarnya penampilannya di Copa Centanario adalah yang paling bagus selama berseragam tim nasional senior menurut saya. Biasanya selalu ada kesenjangan yang jauh antara permainannya di Barcelona & timnas Argentina, tapi di turnamen ini tampak sekali dia bermain lepas. Semacam akhirnya menemukaan settingan yang pas untuk dimainkan dengan gaya pemain Argentina lainnya. Gol  tendangan bebasnya ke gawang Amerika jadi salah satu momen terindah sepakbola tahun 2016 ini.

Predikat pemain terbaik dunia yang diraih berkali-kali tidak akan lengkap tanpa prestasi di level internasional. Bisa dibilang belum sah dikatakan sebagai pemain terbaik. Saya selalu cuma bisa tersenyum sinis ketika membaca atau mendengar fans garis keras Lionel Messi ataupun Christiano Ronaldo membual bahwa idolanya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Melewati capaian  Zinedine Zidane atau Ronaldo Luís Nazário de Lima saja belum. Jangan kelewat delusi.

Puncak dari rasa frustrasi, Messi menyatakan keinginannya untuk mundur dari timnas. Memang belum jelas atau seberapa bulat keputusannya tersebut, bisa saja hanya karena luapan emosi sesaat saja. Tapi jika dilhat-lihat., Piala Dunia di Brazil kemarin & Copa Centanario ini sebenarnya adalah waktu yang paling pas untuk seorang Messi memeberi gelar untuk Argentina. Berada pada periode puncak permainan, kedewasaaan dan umur emas sebagai seorang pesepakbola. Umur 26-29 sering disebut banyak orang adalah umur emas dalam sepakbola. Sayangnya pada periode tersebut dilewati Messi tanpa gelar, yang sakitnya lagi dikalahkan di final secara beruntun, padahal cuma tinggal selangkah lagi.

Bisa saja nantinya jika Messi benar-benar pensiun dari timnas, Argentina malah jadi berjaya. Seperti yang dialami Raul Gonzales. Bertahun-tahun sukses dengan Real Madrid, Raul tidak pernah bisa menunjukkannya di level timnas.  Namun Ketika Luis Aragones memutuskan tidak mengikutsertakannya dalam skuat, keputusan besar waktu itu, Spanyol malah berjaya menjuarai Euro 2008, lalu berlanjut juara dunia 2010 dan Euro 2012. Pada masa tersebut Raul tidak pernah masuk lagi ke timnas. Dia seakan jadi pemain bintang yang dikutuk. Walaupun sekarang timnas Spanyol sudah mulai kendor lagi.

Untuk Messi saya percaya, jikapun dia memutuskan pensiun, nanti pas piala dunia dia bakal balik lagi. Bakal jadi cerita indah seorang pahlawan untuk negaranya seperti Zinedine Zidane pada piala dunia 2006. Apalagi kalau bisa juara. Mayoritas masyarakat Argentina pasti tidak rela Messi pensiun dini seperti ini. Seperti komentar salah satu remaja tanggung Argentina yang menyambut kedatangan timnas Argentina di bandara beberapa waktu yang lalu “Apa gunanya Negara ini punya pemain terbaik di dunia, tapi kau tak bias memainkannya untuk timnas”.

Saya sendiri sebenarnya bukan fan Messi. Tapi jika SEKARANG disuruh milih antara Ronaldo dan Messi, saya lebih suka Messi. Tetapi secara umum saya bukanlah  penggemar khusus seorang pemain atau individu dalam sepakbola. Saya tidak menganjurkan hal seperti itu juga, karena malah kelihatan seperti fandom musik atau selebritis. Kalau dilihat-lihat fans yang hardcore pada satu orang seperti itu kebanyakan juga datang dari para remaja tanggung yang sibuk berantem tidak penting dengan fans pemain lain, tidak beda jauh dengan prilaku fans-fans seleb semacam Justin Bieber, Taylor Swift dkk. Tetapi untuk tim, anda wajib punya favorit sendiri. Jangan labil, harus konsisten. Karena di situ lah salah satu letak kesenangan menjadi seorang penggemar sepakbola. Kalu tidak, besar kemungkinan anda sebenarnya tidak benar-benar suka sepakbola. Cuma ikuta-ikutan saja. Lebih baik cari olahraga lain.

messi

Buku ini saya dapat dari adik saya, seorang fan Barcelona, fan angin-anginan -kipas angin yang diangin-anginin sih tepatnya. Merupakan terjemahan dari edisi buku yang diterbitkan di Inggris tahun 2012, edisi pertamanya diterbitkan tahun 2008 di Spanyol. Ditulis oleh Luca Caioli, seorang jurnalis olahraga  yang juga telah menulis biografi para olahragawan lainnya, termasuk juga Christiano Ronaldo.

Saya tidak terlalu sering baca buku biografi. Selain bentuknya tebal, harganya juga kebanyakan mahal, terutama buku biografi yang saya minati. Jadi tidak punya banyak bahan yang bisa dibandingkan dengan buku ini. Saya tidak tahu apakah ini salah satu metode penulisan biografi atau tidak. Tapi konten buku ini lebih banyak dari hasil wawancara orang-orang terdekatnya atau para figur yang pernah berhubungan dengannya dibanding wawancara dengan Messi sendiri. Seingat saya cuma ada 1 bab dari 40 bab yang merupakan hasil wawancara dengan Messi, bab paling akhir. Di sini kadang saya merasa sedih  sedikit kecewa karena buku ini jadi terasa tidak begitu personal dengan Messi, lebih terkesan sebatas bagian dari PR atau iklan dengan pihak ketiga saja.

Secara keseluruhan buku ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Kadang beberapa wawancara eksklusif di media yang sudah dilakukan Messi lainnya jauh lebih mengupas dan dibanding 40 bab buku yang lumayan tebal ini. Hanya saja mungkin dengan membaca buku ini kita lebih bisa menghimpun kisah-kisah seputaran Messi secara runtut. Mengetahui cerita sebenarnya dibalik rumor-rumor tentang Messi dari orang-orang terdekatnya. Walaupun kadang dibuat bingung juga karena cerita versi antara orang-orang yang diwawancarai dalam buku ini juga ada yang berbeda dan bahkan kontradiktif satu sama lain.

Satu yang cukup mengganggu adalah kecenderungan penulis yang sering sekali menekankan pembandingan Messi dan Maradona. Terlalu sering diulang-ulang. Hampir setiap narasumber selalu ditanyakan perihal ini. Di akhir setiap bahasan tersebut selalu berusaha menyarankan agar orang-orang jangan terlalu membanding-bandingkan mereka, lalu kemudian dibahas lagi berkali-kali di bab-bab berikunya:/. Padahal hampir bisa dipastikan Messi dan penggemarnya  tidak begitu menyukai hal ini. Terkesan lebih kepada gaya jurnalisme murahan ala The Sun dan Dailymail demi berburu headline. Memprioritaskan memasukkan tendensi opininya dibanding hal personal yang ingin disampaikan oleh objek buku ini sendiri, yaitu Messi.

Saya juga agak skeptis ketika melihat portofolio si penulis, Luca Caioli. Selain Messi dia juga telah menulis biografi olahragawan yang lain, sepert; Ronaldinho, Zidane, Fabregas, Torres, Benzema, C. Ronaldo, Mancini, Vicente del Bosque dan Lance Amstrong. Lho kok skeptis? Bukannya portofolio terlihat sangat ‘kaya’, mungkin ada yang bertanya begitu. Iya, memang kelihatan wow sekali. Sangat berpengalaman menulis biografi atlet terkenal. Tapi justru di sini terlihat kelemahannya. Kesannya menulis biografi bagi Luca Caioli tidak jauh beda dengan perkejaan jurnalisme yang lainnya, terlalu sering juga. Kurang terasa keintiman ketika membaca buku ini. Tidak banyak hal-hal personal yang dibahas. Rasanya akan berbeda mungkin, jika sebuah buku biografi ditulis oleh orang yang benar-benar dekat atau penggemar figur yang bersangkutan. Entahlah cuma asumsi kurang berdasar sebenarnya hehe😀.

Pada edisi terjemahan bahasa Indonesia ini juga diselipkan sebuah halaman khusus testimoni dari beberapa pengurus fansclub Barcelona Indonesia, yang saya rasa tidak begitu penting. Desain halamannya juga jelek.

Kesimpulannya, buku biografi Messi ini tidak seelegan pemainnya. Sorry not sorry

Rating: ★★★★★☆☆☆☆☆

Save

Laika (2007)

Sudah cukup lama saya baca buku ini sebenarnya, tapi baru sekarang sempat menulis ulasannya. Ini pertama kalinya saya menamatkan sebuah graphic novel. Sebelumnya sudah sering menyentuh jenis buku ini, tapi kebanyakan cuma dibaca sepintas lalu saja. Novel grafik ini berjudul Laika. Sebuah cerita ringan dengan setting pada keadaan yang cukup susah. Bercerita tentang anjing yang dijadikan sebagai awak percobaan pesawat ke luar angkasa. Karya Nick Abadzis berporos pada seekor anjing bernama Laika & Yelena, seorang pegawai perempuan di tempat pelatihan anjing-anjing yang akan digunakan untuk proyek luar angkasa Uni Soviet pada masa perang dingin. Seperti yang kita ketahui pada saat itu Amerika & Soviet juga gila-gilaan berlomba perihal masalah antariksa. Pada periode tersebut banyak lahir momen historis seperti Yuri Gagarin dari Soviet menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada tahun 1961. Lalu kemudian Amerika mengirim Neil Amstrong menjadi manusia pertama yang berjalan di bulan, belakangan banyak muncul teori konspirasinya bahwa footage perjalanan dia di bulan cuma rekayasa yang dibuat di daerah gurun Nevada😕❓.

Laika merupakan perpaduan fiksi & kejadian asli circa 1957 dalam proyek luar angkasa Sputnik II. Laika adalah makhluk hidup pertama yang dicoba untuk diterbangkan ke luar angkasa. Dari segi cerita, cukup menarik karena diangkat dari kisah yang tersembunyi dari momen bersejarah Uni Soviet itu. Point Of View cerita berganti-ganti dari awal sampai akhir bukuDi sini yang saya sukai sehingga kita tahu gambaran keadaan yang cukup beragam. Proyek Sputnik II ini banyak nuansa politiknya. Desakan kerja dengan tempo yang sempit oleh Nikita Khruschev kepada tim pekerja agar proyek ini diselesaikan demi propaganda ke dalam (peluncuran dilakukan menyambut perayaan ulang tahun Revolusi Bolshevik) dan ke luar (persaingan dengan Amerika) terasa sangat pas. Membuat rakyat nasionalis Amerika jadi keder saat itu. Saya pun berpikir-pikir tidak heran jika kemudian teori konspirasi mempertanyakan  keaslian misi Neil Amstrong ke bulan itu bermunculan. Karena kondisinya pada saat itu para petinggi Amerika memang dalam keadaan panik pasca misi Laika ini, apalagi setelah keberhasilan Yuri Gagarin. Dalam keadaan “terdesak” seperti itu apapun bisa dilakukan demi propaganda menyelamatkan muka.

Walaupun diceritakan dari beragam sudut pandang, pusat cerita tetap masih dipegang Laika & Yelena. Di sini yang saya kadang merasa sedih kurang sreg, yaitu bagian point of view si anjing. Perihal bagaimana penulis menceritakan perasaan hati dari Laika, memberi kesan seperti tipikal cerita dongeng. Mungkin memang karena saya sendiri bukan penggemar cerita yang terlalu imajinatif, walaupun di buku ini tidak terlalu berlebihan sih tapi ya tetap saja😉.

Gaya ilustrasinya cukup simpel dan tidak terlalu mendetil, tidak seperti manga-manga Jepang. Gambar-gambarnya juga tidak “indah”. Tapi hebatnya saya merasa itu bukan satu kekurangan. Dengan ilustrasi sesederhana itu saya dapat menangkap deskripsinya dengan baik. Penggambaran yang paling memorable salah satunya ada di halaman-halaman awal. Gambar seorang lelaki yang berjalan di tengah salju yang lebat, suhu yang menusuk dengan kondisi letih & kelaparan. Ilustrasi yang merangsang untuk membaca buku ini lebih lanjut.

Membaca cerita bergambar memang menyenangkan. Kita cukup terbantu dengan visualisasi yang disediakan. Saya sendiri juga lumayan suka komik, walaupun kebanyakan sering kandas di tengah jalan, karena umumnya komik punya banyak seri & panjang. Lihat saja One Piece, sampai sekarang masih eksis. Saya jadi tergopoh-gopoh mengikutinya, sehingga sekarang  sudah ketinggalan jauh sekali. Maklum bukan pecinta komik garis keras:mrgreen:. Kalau dulu waktu jaman sekolah masih enak, pulang sekolah bisa mampir ke taman bacaan yang menyewakan baca komik di tempat atau bisa dibawa pulang juga. Tapi sekarang sudah susah.

My rating: ★★★☆☆

Ignorancia

Semalam Ama mengajak kami shalat tarawih di tempat lain, biar ada variasi. Hal yang dulu juga sering dilakukan dengan almarhum Apa pada Ramadan terdahulu. Kali ini kami shalat di masjid yang sedikit lebih fancy dari surau dekat rumah. Begitu juga dengan ceramahnya yang bertema lebih mendalam, menyesuaikan dengan demografi jamaahnya. Ceramah membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan hari akhir.

Ceramah dimulai dengan sindiran terhadap gaya ustad di televisi yang dipenuhi dengan gimmick-gimmick pencari rating. Saya mengangguk-agguk secara imajiner, menyerukan kesepahaman. Kepala saya antusias mendongak ke atas, karena ustad yang satu ini berpotensi menambah wawasan baru keagamaan yang menarik & membuat rasa kantuk tidak sanggup muncul ke permukaan. Setengah jalan dilalui saya begitu menikmati ceramah tersebut, bahkan setiap hadist yang dibahas dikasih tahu sumbernya, halaman berapa, alternatif referensi online-nya, hingga harga bukunya segala hahaha😀.

Tapi kemudian ada momen saya harus mengerinyitkan dahi, ketika pak ustad tersebut becerita tentang sebuah kisah seorang muslim China yang datang dari Korea. Mungkin maksudnya dia orang China tapi tinggal di Korea. Tapi besar dugaan saya pak ustad ini sedikit ignorant terhadap geografi dunia, menganggap Korea bagian dari China. Karena beberapa saat kemudian dia juga menceritakan tentang seorang tokoh penghafal hadist belajar lama di Bucharest, di Rusia katanya, lho bukannya Bucharest  itu di Rumania, gimana sih Tad?😕 . Cuma hal kecil remeh temeh sih, tapi cukup membuyarkan semangat saya mengikuti ceramah dengan khidmat.

Apalagi dia menutup ceramahnya dengan hal yang membuat saya jadi ilfeel. Menggiring opininya menyerempet masalah politik tentang isu basi propaganda kristenisasi dengan agendanya menguasai Indonesia tahun 2019. Tahu sendiri lah siapa yang disindir, itu loh orang Belitung yang sekarang lagi duduk di DKI-1. Orang-orang penjaga makam yang dulu pernah mendapat bantuan pergi umrah dari gubernur Jakarta juga ikut dikatain “Kok mau-maunya dikasih orang kafir?”

Sangat malas jika ustad sudah berbicara tentang hal-hal yang tidak begitu ia kuasai, apalagi disuarakan dengan nada percaya diri, kadang juga sedikit sombong atas opini subjektifnya di depan orang banyak. Seperti masalah konflik Syria yang sering juga disinggung para ulama. Menhitam-putihkan masalah di sana pada level kasar muslim vs kafir atau Sunni vs Syiah.

Pada dasarnya, siapa sih yang suka orang sok tahu?:/

21 Sopir Pesawat

Inilah band barat yang paling saya gandrungi beberapa tahun belakangan, twenty one pilots. Kalau ditanya muda-mudi penyuka musik barat saat ini saya yakin 75% tahu tentang band ini, karena mereka memang lagi in banget lewat lagu Stressed Out. Tapi saya mengenal mereka jauh sebelum mereka sepopuler sekarang, jumlah views mereka di Youtube juga masih sedikit saat itu. Pertama kali dengar & lihat lagu mereka yang berjudul Holding On to You, menarik. Tapi yang menyemen ketertarikan saya dan mengulik lebih dalam tentang mereka  ialah lagu Car Radio.

Band ini cuma beranggota 2 orang. Yang satu main drum, satunya lagi vokalisnya yang sekaligus pegang piano, organ, keyboard kecil yang entah apalah namanya itu, ukulele, bass, tamburin, dll. Genre musiknya campur-campur, ada rock, pop, electronica, hiphop, reggae, dll. Jika ditanya fans hardcore sekalipun tentang genre spesifik, mereka juga pasti bingung, atau mungkin dijawab “genrenya ya twenty one pilots”. Jawaban tipikal ala anak band biasanya biar terlihat keren😛.

Liriknya sangat puitis, bukan dalam artian mendayu-dayu romantis, lagu mereka kebanyakan bukan bertema cinta. Puitis dalam artian kompleksitas dan keunikan pemilihan kata, rima, tema, metafora yang apik yang dibungkus dalam melodi yang enak. Yang jelas saat membaca liriknya bikin kita berpikir sendiri jauh lebih dalam, berusaha menempatkan diri di dalamnya. Kadang melebihi maksud dari si pembuat lagunya sendiri. Contohnya tengok komentar di video Car Radio, banyak yang menulis interpretasi panjang mereka sendiri-sendiri. Padahal Tyler Joseph (vokalis) pernah bilang, kalau dulu radio mobilnya memang pernah dimaling orang😀.

Penampilan live mereka mungkin salah satu yang terbaik saat ini. Walau cuma bisa menyaksikan lewat Youtube, tapi energinya memang terasa sekali. Konser yang bakal bikin baju basah karena keringat. Mungkin yang tidak suka adalah orang yang memang malas lompat-lompat, sing a long saat konser, atau yang gampang emosi jika terkena sikutan kecil, lalu komplain bikin esai panjang setelah itu.

Saat album mayor kedua mereka, Blurryface keluar, dengan lagu pertama Fairly Local. Rasanya agak kurang sreg, karena menggunakan efek-efek suara khas hiphop mainstream yang kurang saya senangi. Tapi lama-kelamaan setelah diputar berkali-kali seluruh albumnya, tetap masih bagus saja. Pesan-pesan liriknya juga masih kuat. Lagu Stressed Out jadi terkenal sekali, bikin band ini jadi populer, tapi bukan favorit saya di album ini walaupun liriknya yang “My name’s Blurryface and i care what you think…” masih suka tergumam sendiri. Yang paling saya suka adalah HeavyDirtySoul dan We Don’t Believe What’s on TV

Asyik lihat mereka bawa lagu ini, ketika si drummer Josh Dun tiba-tiba berdiri main terompet, walau cuma 1-2 tiup:mrgreen:

Mereka penganut agama Kristen yang lumayan taat. Cukup berbeda dengan para muda-mudi artis barat yang banyak memilih ateis. Ya tahu sendiri lah banyak yang menganggap agama adalah paham kuno, banyak mendatangkan masalah, sengketa dan perang. Ateisme sudah semacam atribut yang mengekor kultur pop kekinian terutama di negara-sah maju. Ya sah-sah saja itu pilihan, hidup mereka ya mereka yang menetukan sendiri. Hak masing-masing.

Jadi cukup fresh ketika melihat orang-orang yang cukup religius digandrungi oleh massa yang sebagian besar mulai menafikan hal tersebut. Pesan religi memang tersirat dalam beberapa lirik mereka. Tidak spesifik dan gamblang, tapi lebih umum pada hubungan manusia dengan penciptanya, sehingga orang beragama lain pun bisa relate. Seperti saya ini yang beragama Islam.

Kartini? Rohana Kudus Did It Better

Tulisan ini pernah saya post di tempat lain setahun yang lalu, sekarang saya angkat ke sini.

Setiap tanggal 21 April jadi hari untuk apresiasi emansipasi wanita nasional. Diskusi dan bacaan tentang kesetaraan gender berserakan dimana-mana. Para wanita sibuk ber-kebaya ria, entah apa relevansinya dengan emansipasi wanita, lebih kepada euforia dan gimmick saja Continue reading

19 Maret 2016: Bapakku Dipanggil Pulang Oleh Allah

1

Sabtu, 19 Maret 2016, jam 01.50 WIB, Apa (begitu saya & adik-adik memanggil Bapak) ‘dipanggil pulang’ oleh Allah SWT di RSUP M. Djamil Padang.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Tepat sepekan sebelumnya, Sabtu pagi tanggal 12 Maret, Apa membangunkan saya dengan nada sedikit marah karena saya masih malas-malasan di kasur. Pagi itu harusnya saya mengantar Ama pergi bekerja, tapi sungguh mata sangat berat, karena baru tertidur beberapa jam sebelumnya. Kebiasaan buruk yang sangat tidak disukai oleh Apa & Ama yang sampai sekarang masih sering saya lakukan. Karena tiba-tiba turun hujan, maka akhirnya Apa yang mengantar Ama dengan mobil. Sementara saya balik ke kasur melanjutkan tidur di kamar di lantai 2.

Lalu kemudian saya dibangunkan oleh teriakan keras memanggil berkali-kali dari adik laki-laki — yang kini duduk dibangku kelas 2 SMA, kebetulan hari itu dia masuk sekolah siang jadi masih di rumah. Sontak saya langsung melompat dari tempat tidur menuju sumber teriakan. Mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata dia sedang berada di atas loteng rumah, dia berteriak sekali lagi “Apa jatuaaah!”

Sekejap kami berhamburan ke lantai bawah. Mendapati Apa di lantai sedikit kejang dan muntah-muntah, yang saat itu sudah dipegangi oleh adik yang perempuan. Apa terjatuh dari loteng, jeblos dari platform triplek dengn ketinggian sekitar 3,5 meter.

Pagi itu ketika saya masih tertidur, ternyata Apa sudah balik dari mengantar Ama dan sempat makan lontong dulu di jalan pulang. Sesampai di rumah beliau bersama adik saya yang laki-laki naik ke atas loteng memeriksa bagian yang bocor. Belakangan ini beliau, saya ataupun adik memang sering mengecek ke atas karena ada beberapa bagian atap yang bocor, apalagi dengan kondisi penghujan akhir-akhir ini. Kebetulan di rumah kami memang ada pintu kecil dekat tangga ke lantai 2 yang disediakan untuk masuk ke loteng, tidak susah masuk ke dalam & kondisi kerangkanya juga cukup kokoh. Saat itu beliau & adik yang naik ke atas, lalu dengan kehendak Allah terjadilah musibah tersebut.

Kami langsung membawa Apa ke RS Ibnu Sina Bukittinggi, namun setelah 3 hari di sana, atas saran dari kerabat & teman-teman Apa, kami memilih memindahkan beliau ke RSUP M. Djamil Padang. Alasannya karena kami merasa beliau kurang diperhatikan di sana, sementara kondisi beliau terus memburuk. Selasa sore kami sampai di Padang. Ada sedikit perasaan lega, karena di sana langsung dikasih perawatan dan dokter langsung menjelaskan bagaimana kondisi beliau saat itu. Setelah beberapa scanning & pemeriksaan di labor ternyata diketahui Apa mengalami pendarahan di 3 titik di kepala & patah tulang punggung. Kondisi Apa sangat berat, kesadarannya berada pada level 8 (level orang normal: 15), kami diperingatkan kondisi beliau sewaktu-waktu bisa memburuk.

Jujur saja ketika dipindah ke Padang, ada perasaan optimis. Bahkan saya & Ama sempat berbincang tentang rencana bagaimana pemulihan ke depan dan di mana Apa akan ditempatkan setelah di ruang HCU Bedah tersebut. Dokter mengisyarakatkan tidak perlu dilakukan operasi, cukup dengan pemulihan saja. Rabu dini hari, beliau mulai bisa membuka mata, mencoba bicara walau tidak jelas, dan tangan saya diremas-remas oleh beliau merespon apa yang saya katakan. Malam itu kami sekeluarga bisa sedikit tersenyum, punya harapan positif berangsur-angsur beliau akan pulih.

Hari berikutnya kondisi beliau menurun, sesak nafas & panas tinggi. Hingga Jum’at malam masih seperti itu. Malam itu giliran saya yang jaga, karena memang dalam ruangan tersebut hanya boleh ditunggui 1 orang. Ama & adik balik ke penginapan. Setelah baca buku & Al-qur’an, saya ketiduran di sisi tempat tidur beliau.

Yang saya tahu berikutnya pundak saya digoyang-goyang dibangunkan oleh para perawat, kondisi Apa tiba-tiba kritis. Sementara mereka berusaha, saya disuruh membisiki ke telinga beliau. Saya yang kaget karena dibangunkan secara tiba-tiba, seketika paham kondisi saat itu. Mendekat & mendekap beliau seraya membisiki kalimat “Lailahaillallah“, serta terus mencoba membangunkan.

Beberapa saat kemudian suara gaduh para perawat yang bekerja di sekitar tempat tidur tak terdengar lagi. Saya yang saat itu masih mendekap beliau tersentak, jantung ini berdegup kencang, kemudian dokter jaga memeriksa dan memberi tahu bahwa beliau sudah tidak ada lagi. Rasanya saat itu dada bagai dihantam seribu orang. Momen paling menyakitkan selama hidup ini. Apa menghembuskan nafas terakhir di depan saya.

Ketika ajal menjemput tidak ada yang bisa kita lakukan memang. Semua sudah rencana Allah SWT. Beliau yang sehari-harinya cukup sehat. Beliau yang sebelumnya tidak punya riwayat dirawat di rumah sakit, akhirnya dipanggil Allah diumur 61 tahun. Dan jika benar yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD waktu itu, semoga Apa benar-benar ditempatkan dengan orang-orang terbaik di tempat terbaik di sisi-Nya.

Apa baru saja pensiun beberapa waktu yang lalu, belum genap 1 tahun. Kami sekeluarga, terutama saya masih sangat bergantung pada beliau dalam banyak hal. Beberapa bulan yang lalu saya melakukan sesuatu yang sangat mengecewakan yang dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua. Belum sempat saya menebus kesalahan itu, belum sempat beliau melihat anak sulungnya ini berhasil, belum sempat beliau merasa tugasnya terhadap anak selesai, namun Allah memutuskan cukup sampai di sini untuk beliau. Maafkan Hendro, Pa!

Mohon do’a dari teman-teman untuk bapak saya. Semoga kita menjadi anak-anak saleh bagi bapak & ibu kita masing-masing yang terus bisa mengucurkan pahala untuk mereka lewat do’a yang tak pernah terlupa.

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

Veronika (1998)

Walau sangat paham akan manfaat yang besar dari membaca, saya bukanlah orang yang terlahir atau terbiasa membaca buku secara rutin. Beberapa waktu terakhir ini saya “paksakan” membaca agar nantinya dapat membudaya dalam kehidupan saya ke depan. Semua buku yang ada di rumah, saya usahakan menyantapnya terlebih dahulu, apapun genrenya, sebelum merangkak ke toko buku dan perpustakaan. Karena saya beranggapan tidak baik terlalu pemilih dalam membaca, selain juga tidak punya duit beli buku baru😛. Sengaja bikin akun di goodreads.com & mulai menulis review buku di blog ini sebagai bagian dari motivasi baca. Jadi jika review yang saya tulis selama ini & yang akan datang kelihatan amatiran, mohon dimaklumi saja ya^^’.

veronika

Novel adalah jenis buku yang kurang saya gemari. Ada juga sih beberapa novel yang saya baca sebelumnya, tapi mayoritas karena latah, best seller atau ceritanya difilmkan sehingga saya jadi penasaran. Karena tidak begitu familiar dengan dunia per-novel-an, maka saya juga tidak kenal dengan Paulo Coelho. Setelah baca beberapa testimoni di sampul belakang buku VERONIKA ini dan googling tentang penulisnya, barulah saya sadar bahwa dia sangat populer. Followernya di Twitter juga jutaan. Dengan pengetahuan yang minim, ekspektasi saya juga tidak tinggi. Bisa tuntas baca 5 halaman saja sebelum ketiduran, sudah syukur, pikir saya waktu itu. Nyatanya saya malah mendapati diri saya menghabiskan beberapa bab sekali jalan, padahal saat itu sudah lewat tengah malam.

Satu hal yang paling saya suka ketika membaca sebuah cerita adalah jika cerita tersebut relatable dengan keadaan atau yang saya rasakan. Kebetulan ketika baca buku ini beberapa bulan yang lalu, kondisi emosi saya berada pada kondisi yang paralel dengan Veronika. Banyak bagian yang benar-benar menonjok kepala dan menusuk dada. Membuat saya beberapa kali berhenti dan merenung sejenak.

Hal lain juga buku ini memperlihatkan kondisi kehidupan konflik lain di Balkan yang tidak begitu mendapat sorotan internasional. Selama ini yang paling popular ke permukaan adalah konflik Serbia – Bosnia, jarang sekali kita mendengar tentang hal yang terjadi di Slovenia. Pertama kali saya mendengar negara ini malah ketika mereka lolos Piala Dunia 2002, dengan seragamnya berwarna hijau berornamen halilintar.

Yang agak kurang dari buku ini mungkin, ketika memasuki 1/3 bagian akhir, ceritanya seperti kehilangan fokus & antiklimaks. Sehingga semangat baca saya di awal jadi mengendor.

My rating: ★★★☆☆

Semen

Sayang sekali Semen Padang gagal juara Piala Jenderal Sudirman yang kemarin. Padahal secara permainan mereka jauh lebih unggul dibanding Mitra Kukar. Tapi sejak Yu Hyunkoo diganjar kartu merah, permainan berubah dan akhirnya takluk 1-2. Selamat buat Mitra Kukar.

Walaupun saya orang Bukittinggi bukan orang Padang tapi tetap dukung Semen Padang. Wajar, seperti orang Garut dukung Persib, orang Kendal ngedukung PSIS, orang Lahat dukung Sriwijaya dll. Toh orang yang dari daerah lain yang cukup jauh pun tidak dilarang dukung tim daerah lainnya, bebas! Apalagi sejak PSP Padang entah dimana keberadaanya sekarang, satu-satunya klub harapan orang Minang tinggal Semen Padang.

Saya punya sedikit unek-unek tentang klub ini. Relatif tidak begitu penting sih hehehehe^^’

Unfortunate Name
Berapa tahun yang lalu ketika Semen Padang ikut dalam AFC Cup, saat itu mereka bertanding away melawan klub Singapura. Pertandingan tersebut tidak disiarkan oleh stasiun TV lokal, begitulah kenyataan nasib klub luar Jawa yang jarang diliput karena dianggap tidak membawa rating tinggi. Saya terpaksa ‘menonton’ lewat lini masa Twitter saja waktu itu. Lalu ketemu satu twit yang cukup bikin panas kepala, karena gaya bahasanya yang mengolok-olok.

Sempat saya respon & cari tahu apa maksud si Josh ini & danggggg….😮

Serasa langsung kena skakmat di tempat. Maafkan saya waktu itu masih lugu & polos (sekarang pun masih). Juga tidak familiar dengan kosakata dan istilah bahasa Inggris yang bersangkutan dengan seksualitas. Saya taunya cuma bdsm, latinas, brazzer, naughty america, fake taxi, jav, bukkake, happy ending

Tapi mau bagaimana lagi ya, kata cement diserap ke dalam bahasa Indonesia ditetapkan menjadi semen, dan klub ini didirikan & didanai oleh pabrik semen, jadilah namanya demikan. Bisa saja nama klub diubah menjadi misalkan “Padang FC”, tapi mana mau direksi PT Semen Padang, kecuali jika perusahan sudah lepas tangan & tidak menjadi sponsor utama klub lagi.

Kabau Culun
Sejak punya badan hukum sendiri, Semen Padang FC merubah logo klub. Mungkin juga untuk lebih membedakannya dengan logo PT Semen Padang. Tapi sayangnya di logo yang baru si Kabau Sirah kelihatan culun, kurang garang & kayak mau nangis. Bentuk bolanya juga kurang oke

Chelsea dan Arsenal juga merombak logo mereka beberapa tahun yang lalu, hasilnya logo yang baru terlihat sangat solid & modern. Masalah desain dalam lingkungan olahraga lokal memang terkesan setengah-setengah, padahal banyak desainer dalam negeri yang portofolionya yang keren. Belum lama ini sempat hangat masalah maskot Asian Games yang jelek. Banyak yang protes hingga akhirnya dilakukan pengerjaan ulang dengan tim yang baru.

Terkadang rancangan-rancangan fans malah banyak yang terlihat lebih bagus, contohnya:

Stadion
Stadion H. Agus Salim yang selama ini digunakan oleh Semen Padang adalah salah satu yang terburuk. Dari mulai kondisi tribun, kelengkapan fasilitas, rumput dll. Di level nasional saja termasuk yang buruk, apalagi jika digunakan untuk pertandingan internasional, kadang bikin malu.

Banyak yang bilang, sebenarnya pihak manajemen SPFC sudah mempunyai rencana & anggaran untuk pembangunan stadion baru, namun terkendala dengan rumitnya pembebasan lahan. Di Minangkabau ini memang susah jika sudah berurusan dengan perkara tanah. Ada yang namanya tanah ulayat yang butuh berbagai perundingan adat untuk menyelesaikannya. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang ikut bermain di dalam membawa agenda kepentingannya masing-masing. Hal-hal seperti ini juga yang disinyalir minimnya minat investor di provinsi ini.

Rahasia Presentasi Steve Jobs (2009)

Saya bukanlah seorang fan Steve Jobs, bapaknya Apple, bukan karena saya berada di kubu garis keras pendukung Microsoft juga, tapi sederhana karena produk-produk Apple itu mahal😡. Saya kan kere mana sanggup beli. Keinginan membeli iPod dari dulu hanya nyangkut di mimpi, padahal iPod sudah berapa kali keluar seri terbarunya sejak saya punya keinginan tersebut. Jangan kan itu, beli es krim Magnum saja saya mesti keliling mini market dulu dua kali buat mikir sebelum merapat ke lemari es.

Jadi itu salah Steve Jobs? salah teman-temannya Steve Jobs? ya tidak, yang salah itu saya karena tidak punya duit😥.

Jpeg

Buku “Rahasia Presentasi Steve Jobs” ini saya pinjam dari teman se kos di Jogja untuk menemani perjalanan bolak balik. Tapi seperti biasa, buku ini lebih berfungsi sebagai pemberat tas saja. Pernah sempat keluar saya baca saat di atas bus, tapi belum 2 paragraf kepala sudah pusing karena baca nunduk sambil digoyang di dalam bus memang tidak nyaman. Di bandara sebenarnya tempat yang nyaman untuk membaca buku ini, apalagi saat itu nunggu penerbangan memakan waktu cukup lama, alih-alih baca saya malah asyik internetan memamfaatkan wifi gratis bandara:mrgreen:.

Karena buku ini sudah terlanjur di tangan maka mau tak mau harus ditamatkan, kesannya terpaksa banget ya😀. Buku ini aslinya berjudul “The Presentation Secret of Steve Jobs How to Be Insanely Great in Front of Any Audience” karangan Carmine Gallo. Lalu diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia dengan judul seperti di atas.

Memulai baca dengan perasaan cuku skeptis dan minim ekspekatasi, tapi ketika telah selesai menamatkan 1 bab, perasaan tersebut mulai berubah. Lumayan juga, tidak semembosankan yang saya bayangkan. Dari segi konten sebenarnya buku ini bisa dirangkum dalam 1 bab saja. Namun penulis menjabarkannya ke beberapa bab yang kadang terkesan dilebih-lebihkan dan repetitif. Bahkan media video mungkin lebih pas dalam menyampaikan maksud dari buku ini, karena isinya yang menjelaskan tentang cara & gerak gerik Steve Jobs ketika menyampaikan presentasi.

Saya membaca buku ini setelah menonton ulang film Thailand “The Billionaire”, itu loh film populer tentang pengusaha rumput laut dan itu membuat iklim membaca terkoneksi, relatable. Karena buku ini cocok untuk entrepreneur muda yang mulai merintis usaha. Walau tidak banyak, tapi pesan & tips tentang cara Steve Jobs cukup melekat setelah dibaca. Atau setidaknya kita bisa menemukan beberapa kalimat inspiratif untuk dikutip dan di-post di media sosial😛.

Rating: ★★☆☆☆