Chau Chau

Reposting this from my other blog, about my all time favorite Korean song

Lyrics translation:

I can hear your voice

I can hear your voice

I can hear your voice

I can hear your voice

I’m trying my best to ignore it

I’m trying my best to ignore it

I can hear your voice

I can hear your voice

I’m trying to ignore it

I’m trying to ignore it but I can hear your voice.

Apparently it’s just these lines being repeated over and over again. Not much meaning to it since the song was made on a funny occasion. The writer got his lyrics from a dog, that is referred to the title “chau chau”, it was constantly barking in his neighborhood. Seems like he was very annoyed by that dog to write a song about it. LOL.

*I don’t remember where I get this trivia from, so i can’t confirm if it’s true or not, but likely it is

Selonong Boi

Jika diperhatikan dengan seksama sinetron-sinetron Indonesia, ada satu hal yang acap kali mengusik seonggok daging dalam tengkorak saya. Rasanya hampir tidak pernah melihat adegan orang melepas alas kakinya ketika memasuki rumah. Asik selonong boi saja. Baik itu dengan setting cerita di rumah orang kaya yang mewah, maupun di rumah yang sedehana.

Okelah sinetron memang bukan acuan yang ideal untuk gambaran kehidupan masyarakat. Bagaimana dengan film? Film-film Indonesia sekarang makin marak dan kualiatasnya mulai membaik, tetapi nyatanya tidak jauh beda. Hal serupa juga dipertontonkan, di film “Emak Ingin Naik Haji” Reza Rahardian santai saja ber-sandal ria di rumahnya yang kecil & sederhana, sandal yang sama yang dipakainya di adegan-adaegan lain di luar rumah.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apa mungkin adab membuka alas kaki memasuki rumah ini hanya ada pada budaya daerah lokal saya saja? Apakah di daerah-daerah lain di Indonesia berbeda? Apakah di Jakarta (tempat mayoritas sinetron & film dibuat) tidak berlaku adab sepert ini?

Namun berdasarkan pengalaman, saya pernah masuk rumah-rumah orang di Bukittingi, Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo dll, tidak pernah sekalipun saya temui/disuruh/dipersilahkan masuk rumah dengan tetap menggunakan alas kaki.

Iya memang tak sedikit juga yang pakai sandal di dalam rumah, tapi biasanya itu memang disiapkan khusus untuk di rumah saja, bukan alas kaki yang sama yang dipakai dari luar, seperti kebiasaan orang di Jepang, Korea, dll. Atau dengan kondisi tertentu, ibu saya juga menggunakan sandal dalam rumah karena tidak tahan dengan dinginnya lantai keramik. Banyak orang-orang tua lain juga demikian.

Ini memang remeh temeh, tapi detil-detil kecil semacam ini jitu menunjukkan kultur kita kepada orang lain. Di film, drama dan acara TV Jepang dan Korea, hal ini sering kali dikasih lihat, yang membuat iri bagaimana mereka sebegitu rapi dan tertata. Sebagai media yang terbukti ampuh mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup sehari-hari, alangkah kerennya jika sinetron, film dan acara-acara TV di Indonesia juga mempertontonkan remeh temeh kultur yang mendidik seperti ini.

Pemandangan yang cukup membahagiakan ketika beberapa waktu yang lalu mengunjungi adik bungsu saya yang kini mondok di pesantren, waktu shalat di masjid alas kaki para santri tersusun rapi dengan ujungnya yang seragam mengarah keluar. Walaupun tidak serapi & se-njelimet orang-orang Jepang, tapi sudah lumayan bagus.

Remeh temeh yang baik untuk dibiasakan, disebarluasakan & lebih sering dipertontonkan di layar kaca.

Messi (2012) : Bukunya Tak Seelegan Orangnya

Tadinya ingin buat ulasan ini setelah final Copa Centenario biar momennya pas, tapi kenyataanya Argentina gagal lagi di final, dan buruknya Messi juga merupakan salah satu faktor kegagalan  mereka selain Lucas Biglia. Messi seakan dikutuk dengan ketidakberuntungan di tim nasional. Katanya ini sudah yang final keempat dia gagal membawa Argentina juara. Sebelumnya ada final Piala Dunia kalah dengan Jerman, final Copa America yang sebelum ini juga kalah dengan Chile dan satu lagi kalau tidak salah juga final Copa America keok lawan Brazil.  Padahal sebenarnya penampilannya di Copa Centanario adalah yang paling bagus selama berseragam tim nasional senior menurut saya. Biasanya selalu ada kesenjangan yang jauh antara permainannya di Barcelona & timnas Argentina, tapi di turnamen ini tampak sekali dia bermain lepas. Semacam akhirnya menemukaan settingan yang pas untuk dimainkan dengan gaya pemain Argentina lainnya. Gol  tendangan bebasnya ke gawang Amerika jadi salah satu momen terindah sepakbola tahun 2016 ini.

Predikat pemain terbaik dunia yang diraih berkali-kali tidak akan lengkap tanpa prestasi di level internasional. Bisa dibilang belum sah dikatakan sebagai pemain terbaik. Saya selalu cuma bisa tersenyum sinis ketika membaca atau mendengar fans garis keras Lionel Messi ataupun Christiano Ronaldo membual bahwa idolanya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Melewati capaian  Zinedine Zidane atau Ronaldo Luís Nazário de Lima saja belum. Jangan kelewat delusi.

Puncak dari rasa frustrasi, Messi menyatakan keinginannya untuk mundur dari timnas. Memang belum jelas atau seberapa bulat keputusannya tersebut, bisa saja hanya karena luapan emosi sesaat saja. Tapi jika dilhat-lihat., Piala Dunia di Brazil kemarin & Copa Centanario ini sebenarnya adalah waktu yang paling pas untuk seorang Messi memeberi gelar untuk Argentina. Berada pada periode puncak permainan, kedewasaaan dan umur emas sebagai seorang pesepakbola. Umur 26-29 sering disebut banyak orang adalah umur emas dalam sepakbola. Sayangnya pada periode tersebut dilewati Messi tanpa gelar, yang sakitnya lagi dikalahkan di final secara beruntun, padahal cuma tinggal selangkah lagi.

Bisa saja nantinya jika Messi benar-benar pensiun dari timnas, Argentina malah jadi berjaya. Seperti yang dialami Raul Gonzales. Bertahun-tahun sukses dengan Real Madrid, Raul tidak pernah bisa menunjukkannya di level timnas.  Namun Ketika Luis Aragones memutuskan tidak mengikutsertakannya dalam skuat, keputusan besar waktu itu, Spanyol malah berjaya menjuarai Euro 2008, lalu berlanjut juara dunia 2010 dan Euro 2012. Pada masa tersebut Raul tidak pernah masuk lagi ke timnas. Dia seakan jadi pemain bintang yang dikutuk. Walaupun sekarang timnas Spanyol sudah mulai kendor lagi.

Untuk Messi saya percaya, jikapun dia memutuskan pensiun, nanti pas piala dunia dia bakal balik lagi. Bakal jadi cerita indah seorang pahlawan untuk negaranya seperti Zinedine Zidane pada piala dunia 2006. Apalagi kalau bisa juara. Mayoritas masyarakat Argentina pasti tidak rela Messi pensiun dini seperti ini. Seperti komentar salah satu remaja tanggung Argentina yang menyambut kedatangan timnas Argentina di bandara beberapa waktu yang lalu “Apa gunanya Negara ini punya pemain terbaik di dunia, tapi kau tak bias memainkannya untuk timnas”.

Saya sendiri sebenarnya bukan fan Messi. Tapi jika SEKARANG disuruh milih antara Ronaldo dan Messi, saya lebih suka Messi. Tetapi secara umum saya bukanlah  penggemar khusus seorang pemain atau individu dalam sepakbola. Saya tidak menganjurkan hal seperti itu juga, karena malah kelihatan seperti fandom musik atau selebritis. Kalau dilihat-lihat fans yang hardcore pada satu orang seperti itu kebanyakan juga datang dari para remaja tanggung yang sibuk berantem tidak penting dengan fans pemain lain, tidak beda jauh dengan prilaku fans-fans seleb semacam Justin Bieber, Taylor Swift dkk. Tetapi untuk tim, anda wajib punya favorit sendiri. Jangan labil, harus konsisten. Karena di situ lah salah satu letak kesenangan menjadi seorang penggemar sepakbola. Kalu tidak, besar kemungkinan anda sebenarnya tidak benar-benar suka sepakbola. Cuma ikuta-ikutan saja. Lebih baik cari olahraga lain.

messi

Buku ini saya dapat dari adik saya, seorang fan Barcelona, fan angin-anginan -kipas angin yang diangin-anginin sih tepatnya. Merupakan terjemahan dari edisi buku yang diterbitkan di Inggris tahun 2012, edisi pertamanya diterbitkan tahun 2008 di Spanyol. Ditulis oleh Luca Caioli, seorang jurnalis olahraga  yang juga telah menulis biografi para olahragawan lainnya, termasuk juga Christiano Ronaldo.

Saya tidak terlalu sering baca buku biografi. Selain bentuknya tebal, harganya juga kebanyakan mahal, terutama buku biografi yang saya minati. Jadi tidak punya banyak bahan yang bisa dibandingkan dengan buku ini. Saya tidak tahu apakah ini salah satu metode penulisan biografi atau tidak. Tapi konten buku ini lebih banyak dari hasil wawancara orang-orang terdekatnya atau para figur yang pernah berhubungan dengannya dibanding wawancara dengan Messi sendiri. Seingat saya cuma ada 1 bab dari 40 bab yang merupakan hasil wawancara dengan Messi, bab paling akhir. Di sini kadang saya merasa sedih  sedikit kecewa karena buku ini jadi terasa tidak begitu personal dengan Messi, lebih terkesan sebatas bagian dari PR atau iklan dengan pihak ketiga saja.

Secara keseluruhan buku ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Kadang beberapa wawancara eksklusif di media yang sudah dilakukan Messi lainnya jauh lebih mengupas dan dibanding 40 bab buku yang lumayan tebal ini. Hanya saja mungkin dengan membaca buku ini kita lebih bisa menghimpun kisah-kisah seputaran Messi secara runtut. Mengetahui cerita sebenarnya dibalik rumor-rumor tentang Messi dari orang-orang terdekatnya. Walaupun kadang dibuat bingung juga karena cerita versi antara orang-orang yang diwawancarai dalam buku ini juga ada yang berbeda dan bahkan kontradiktif satu sama lain.

Satu yang cukup mengganggu adalah kecenderungan penulis yang sering sekali menekankan pembandingan Messi dan Maradona. Terlalu sering diulang-ulang. Hampir setiap narasumber selalu ditanyakan perihal ini. Di akhir setiap bahasan tersebut selalu berusaha menyarankan agar orang-orang jangan terlalu membanding-bandingkan mereka, lalu kemudian dibahas lagi berkali-kali di bab-bab berikunya :/. Padahal hampir bisa dipastikan Messi dan penggemarnya  tidak begitu menyukai hal ini. Terkesan lebih kepada gaya jurnalisme murahan ala The Sun dan Dailymail demi berburu headline. Memprioritaskan memasukkan tendensi opininya dibanding hal personal yang ingin disampaikan oleh objek buku ini sendiri, yaitu Messi.

Saya juga agak skeptis ketika melihat portofolio si penulis, Luca Caioli. Selain Messi dia juga telah menulis biografi olahragawan yang lain, sepert; Ronaldinho, Zidane, Fabregas, Torres, Benzema, C. Ronaldo, Mancini, Vicente del Bosque dan Lance Amstrong. Lho kok skeptis? Bukannya portofolio terlihat sangat ‘kaya’, mungkin ada yang bertanya begitu. Iya, memang kelihatan wow sekali. Sangat berpengalaman menulis biografi atlet terkenal. Tapi justru di sini terlihat kelemahannya. Kesannya menulis biografi bagi Luca Caioli tidak jauh beda dengan perkejaan jurnalisme yang lainnya, terlalu sering juga. Kurang terasa keintiman ketika membaca buku ini. Tidak banyak hal-hal personal yang dibahas. Rasanya akan berbeda mungkin, jika sebuah buku biografi ditulis oleh orang yang benar-benar dekat atau penggemar figur yang bersangkutan. Entahlah cuma asumsi kurang berdasar sebenarnya hehe :D.

Pada edisi terjemahan bahasa Indonesia ini juga diselipkan sebuah halaman khusus testimoni dari beberapa pengurus fansclub Barcelona Indonesia, yang saya rasa tidak begitu penting. Desain halamannya juga jelek.

Kesimpulannya, buku biografi Messi ini tidak seelegan pemainnya. Sorry not sorry

Rating: ★★★★★☆☆☆☆☆

Save

Laika (2007)

Sudah cukup lama saya baca buku ini sebenarnya, tapi baru sekarang sempat menulis ulasannya. Ini pertama kalinya saya menamatkan sebuah graphic novel. Sebelumnya sudah sering menyentuh jenis buku ini, tapi kebanyakan cuma dibaca sepintas lalu saja. Novel grafik ini berjudul Laika. Sebuah cerita ringan dengan setting pada keadaan yang cukup susah. Bercerita tentang anjing yang dijadikan sebagai awak percobaan pesawat ke luar angkasa. Karya Nick Abadzis berporos pada seekor anjing bernama Laika & Yelena, seorang pegawai perempuan di tempat pelatihan anjing-anjing yang akan digunakan untuk proyek luar angkasa Uni Soviet pada masa perang dingin. Seperti yang kita ketahui pada saat itu Amerika & Soviet juga gila-gilaan berlomba perihal masalah antariksa. Pada periode tersebut banyak lahir momen historis seperti Yuri Gagarin dari Soviet menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada tahun 1961. Lalu kemudian Amerika mengirim Neil Amstrong menjadi manusia pertama yang berjalan di bulan, belakangan banyak muncul teori konspirasinya bahwa footage perjalanan dia di bulan cuma rekayasa yang dibuat di daerah gurun Nevada 😕 :?:.

Laika merupakan perpaduan fiksi & kejadian asli circa 1957 dalam proyek luar angkasa Sputnik II. Laika adalah makhluk hidup pertama yang dicoba untuk diterbangkan ke luar angkasa. Dari segi cerita, cukup menarik karena diangkat dari kisah yang tersembunyi dari momen bersejarah Uni Soviet itu. Point Of View cerita berganti-ganti dari awal sampai akhir bukuDi sini yang saya sukai sehingga kita tahu gambaran keadaan yang cukup beragam. Proyek Sputnik II ini banyak nuansa politiknya. Desakan kerja dengan tempo yang sempit oleh Nikita Khruschev kepada tim pekerja agar proyek ini diselesaikan demi propaganda ke dalam (peluncuran dilakukan menyambut perayaan ulang tahun Revolusi Bolshevik) dan ke luar (persaingan dengan Amerika) terasa sangat pas. Membuat rakyat nasionalis Amerika jadi keder saat itu. Saya pun berpikir-pikir tidak heran jika kemudian teori konspirasi mempertanyakan  keaslian misi Neil Amstrong ke bulan itu bermunculan. Karena kondisinya pada saat itu para petinggi Amerika memang dalam keadaan panik pasca misi Laika ini, apalagi setelah keberhasilan Yuri Gagarin. Dalam keadaan “terdesak” seperti itu apapun bisa dilakukan demi propaganda menyelamatkan muka.

Walaupun diceritakan dari beragam sudut pandang, pusat cerita tetap masih dipegang Laika & Yelena. Di sini yang saya kadang merasa sedih kurang sreg, yaitu bagian point of view si anjing. Perihal bagaimana penulis menceritakan perasaan hati dari Laika, memberi kesan seperti tipikal cerita dongeng. Mungkin memang karena saya sendiri bukan penggemar cerita yang terlalu imajinatif, walaupun di buku ini tidak terlalu berlebihan sih tapi ya tetap saja ;).

Gaya ilustrasinya cukup simpel dan tidak terlalu mendetil, tidak seperti manga-manga Jepang. Gambar-gambarnya juga tidak “indah”. Tapi hebatnya saya merasa itu bukan satu kekurangan. Dengan ilustrasi sesederhana itu saya dapat menangkap deskripsinya dengan baik. Penggambaran yang paling memorable salah satunya ada di halaman-halaman awal. Gambar seorang lelaki yang berjalan di tengah salju yang lebat, suhu yang menusuk dengan kondisi letih & kelaparan. Ilustrasi yang merangsang untuk membaca buku ini lebih lanjut.

Membaca cerita bergambar memang menyenangkan. Kita cukup terbantu dengan visualisasi yang disediakan. Saya sendiri juga lumayan suka komik, walaupun kebanyakan sering kandas di tengah jalan, karena umumnya komik punya banyak seri & panjang. Lihat saja One Piece, sampai sekarang masih eksis. Saya jadi tergopoh-gopoh mengikutinya, sehingga sekarang  sudah ketinggalan jauh sekali. Maklum bukan pecinta komik garis keras :mrgreen:. Kalau dulu waktu jaman sekolah masih enak, pulang sekolah bisa mampir ke taman bacaan yang menyewakan baca komik di tempat atau bisa dibawa pulang juga. Tapi sekarang sudah susah.

My rating: ★★★☆☆

Ignorancia

Semalam Ama mengajak kami shalat tarawih di tempat lain, biar ada variasi. Hal yang dulu juga sering dilakukan dengan almarhum Apa pada Ramadan terdahulu. Kali ini kami shalat di masjid yang sedikit lebih fancy dari surau dekat rumah. Begitu juga dengan ceramahnya yang bertema lebih mendalam, menyesuaikan dengan demografi jamaahnya. Ceramah membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan hari akhir.

Ceramah dimulai dengan sindiran terhadap gaya ustad di televisi yang dipenuhi dengan gimmick-gimmick pencari rating. Saya mengangguk-agguk secara imajiner, menyerukan kesepahaman. Kepala saya antusias mendongak ke atas, karena ustad yang satu ini berpotensi menambah wawasan baru keagamaan yang menarik & membuat rasa kantuk tidak sanggup muncul ke permukaan. Setengah jalan dilalui saya begitu menikmati ceramah tersebut, bahkan setiap hadist yang dibahas dikasih tahu sumbernya, halaman berapa, alternatif referensi online-nya, hingga harga bukunya segala hahaha :D.

Tapi kemudian ada momen saya harus mengerinyitkan dahi, ketika pak ustad tersebut becerita tentang sebuah kisah seorang muslim China yang datang dari Korea. Mungkin maksudnya dia orang China tapi tinggal di Korea. Tapi besar dugaan saya pak ustad ini sedikit ignorant terhadap geografi dunia, menganggap Korea bagian dari China. Karena beberapa saat kemudian dia juga menceritakan tentang seorang tokoh penghafal hadist belajar lama di Bucharest, di Rusia katanya, lho bukannya Bucharest  itu di Rumania, gimana sih Tad? 😕 . Cuma hal kecil remeh temeh sih, tapi cukup membuyarkan semangat saya mengikuti ceramah dengan khidmat.

Apalagi dia menutup ceramahnya dengan hal yang membuat saya jadi ilfeel. Menggiring opininya menyerempet masalah politik tentang isu basi propaganda kristenisasi dengan agendanya menguasai Indonesia tahun 2019. Tahu sendiri lah siapa yang disindir, itu loh orang Belitung yang sekarang lagi duduk di DKI-1. Orang-orang penjaga makam yang dulu pernah mendapat bantuan pergi umrah dari gubernur Jakarta juga ikut dikatain “Kok mau-maunya dikasih orang kafir?”

Sangat malas jika ustad sudah berbicara tentang hal-hal yang tidak begitu ia kuasai, apalagi disuarakan dengan nada percaya diri, kadang juga sedikit sombong atas opini subjektifnya di depan orang banyak. Seperti masalah konflik Syria yang sering juga disinggung para ulama. Menhitam-putihkan masalah di sana pada level kasar muslim vs kafir atau Sunni vs Syiah.

Pada dasarnya, siapa sih yang suka orang sok tahu? :/

21 Sopir Pesawat

Inilah band barat yang paling saya gandrungi beberapa tahun belakangan, twenty one pilots. Kalau ditanya muda-mudi penyuka musik barat saat ini saya yakin 75% tahu tentang band ini, karena mereka memang lagi in banget lewat lagu Stressed Out. Tapi saya mengenal mereka jauh sebelum mereka sepopuler sekarang, jumlah views mereka di Youtube juga masih sedikit saat itu. Pertama kali dengar & lihat lagu mereka yang berjudul Holding On to You, menarik. Tapi yang menyemen ketertarikan saya dan mengulik lebih dalam tentang mereka  ialah lagu Car Radio.

Band ini cuma beranggota 2 orang. Yang satu main drum, satunya lagi vokalisnya yang sekaligus pegang piano, organ, keyboard kecil yang entah apalah namanya itu, ukulele, bass, tamburin, dll. Genre musiknya campur-campur, ada rock, pop, electronica, hiphop, reggae, dll. Jika ditanya fans hardcore sekalipun tentang genre spesifik, mereka juga pasti bingung, atau mungkin dijawab “genrenya ya twenty one pilots”. Jawaban tipikal ala anak band biasanya biar terlihat keren :P.

Liriknya sangat puitis, bukan dalam artian mendayu-dayu romantis, lagu mereka kebanyakan bukan bertema cinta. Puitis dalam artian kompleksitas dan keunikan pemilihan kata, rima, tema, metafora yang apik yang dibungkus dalam melodi yang enak. Yang jelas saat membaca liriknya bikin kita berpikir sendiri jauh lebih dalam, berusaha menempatkan diri di dalamnya. Kadang melebihi maksud dari si pembuat lagunya sendiri. Contohnya tengok komentar di video Car Radio, banyak yang menulis interpretasi panjang mereka sendiri-sendiri. Padahal Tyler Joseph (vokalis) pernah bilang, kalau dulu radio mobilnya memang pernah dimaling orang :D.

Penampilan live mereka mungkin salah satu yang terbaik saat ini. Walau cuma bisa menyaksikan lewat Youtube, tapi energinya memang terasa sekali. Konser yang bakal bikin baju basah karena keringat. Mungkin yang tidak suka adalah orang yang memang malas lompat-lompat, sing a long saat konser, atau yang gampang emosi jika terkena sikutan kecil, lalu komplain bikin esai panjang setelah itu.

Saat album mayor kedua mereka, Blurryface keluar, dengan lagu pertama Fairly Local. Rasanya agak kurang sreg, karena menggunakan efek-efek suara khas hiphop mainstream yang kurang saya senangi. Tapi lama-kelamaan setelah diputar berkali-kali seluruh albumnya, tetap masih bagus saja. Pesan-pesan liriknya juga masih kuat. Lagu Stressed Out jadi terkenal sekali, bikin band ini jadi populer, tapi bukan favorit saya di album ini walaupun liriknya yang “My name’s Blurryface and i care what you think…” masih suka tergumam sendiri. Yang paling saya suka adalah HeavyDirtySoul dan We Don’t Believe What’s on TV

Asyik lihat mereka bawa lagu ini, ketika si drummer Josh Dun tiba-tiba berdiri main terompet, walau cuma 1-2 tiup :mrgreen:

Mereka penganut agama Kristen yang lumayan taat. Cukup berbeda dengan para muda-mudi artis barat yang banyak memilih ateis. Ya tahu sendiri lah banyak yang menganggap agama adalah paham kuno, banyak mendatangkan masalah, sengketa dan perang. Ateisme sudah semacam atribut yang mengekor kultur pop kekinian terutama di negara-sah maju. Ya sah-sah saja itu pilihan, hidup mereka ya mereka yang menetukan sendiri. Hak masing-masing.

Jadi cukup fresh ketika melihat orang-orang yang cukup religius digandrungi oleh massa yang sebagian besar mulai menafikan hal tersebut. Pesan religi memang tersirat dalam beberapa lirik mereka. Tidak spesifik dan gamblang, tapi lebih umum pada hubungan manusia dengan penciptanya, sehingga orang beragama lain pun bisa relate. Seperti saya ini yang beragama Islam.

Kartini? Rohana Kudus Did It Better

Tulisan ini pernah saya post di tempat lain setahun yang lalu, sekarang saya angkat ke sini.

Setiap tanggal 21 April jadi hari untuk apresiasi emansipasi wanita nasional. Diskusi dan bacaan tentang kesetaraan gender berserakan dimana-mana. Para wanita sibuk ber-kebaya ria, entah apa relevansinya dengan emansipasi wanita, lebih kepada euforia dan gimmick saja Continue reading